Kota Pekalongan (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang inklusif, termasuk bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekalongan. Melalui kegiatan seni rebana yang digelar rutin setiap hari Kamis sejak Oktober 2025, pembinaan mental dan spiritual dikemas secara humanis dan menyentuh sisi religius peserta.
Kegiatan yang diampu oleh penyuluh agama ini tidak hanya berfokus pada keterampilan memainkan alat rebana, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kepribadian berbasis keagamaan. Warga binaan lapas dilatih kekompakan dalam tim, sekaligus dibimbing melantunkan selawat yang sarat makna. Suasana latihan pun berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.
“Pembinaan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan kepada selawat serta membangun ketenangan batin dan akhlakul karimah bagi warga binaan,” ungkap Lukman Hakim, penyuluh agama Islam KUA Pekalongan Barat yang mendampingi kegiatan tersebut.
Selain latihan rutin, pembinaan juga diperkaya dengan pembelajaran membaca dan pengkajian Kitab Barzanji yang dilaksanakan setiap bulan. Hal ini memberikan pemahaman lebih mendalam terkait nilai-nilai keagamaan, sehingga peserta tidak hanya terampil secara seni, tetapi juga memiliki fondasi spiritual yang kuat.
Antusiasme warga binaan terlihat dari semangat mereka dalam mengikuti setiap sesi latihan. Tidak hanya menunjukkan peningkatan dalam kekompakan dan kedisiplinan, perubahan positif juga tampak dari sisi spiritual. Warga binaan menjadi lebih tenang, religius, serta mulai menjadikan lantunan selawat sebagai bagian dari keseharian mereka.
Kehadiran Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan dalam kegiatan ini diwujudkan melalui peran aktif penyuluh agama yang memberikan pendampingan secara langsung. Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan materi keagamaan, keterampilan seni Islami, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
Melalui pendekatan ini, Kemenag tidak hanya berperan sebagai pembina, tetapi juga menjadi mitra dalam proses pembentukan karakter warga binaan. Harapannya, mereka memiliki bekal spiritual dan keterampilan positif yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke tengah masyarakat.
“Diharapkan warga binaan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan terus berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menyentuh aspek lahiriah, tetapi juga memperkuat dimensi batin, sebagai bekal penting dalam proses reintegrasi sosial warga binaan.










