Kota Pekalongan (Humas) – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, pondok pesantren tetap menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu serta membentuk karakter. Peran ini terus dijaga oleh Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin di Kota Pekalongan, yang hingga kini konsisten menjadi ruang pembinaan generasi muda.
Berawal dari Kesederhanaan, Tumbuh dengan Kepercayaan
Didirikan oleh KH. Saelan pada tahun 1912, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin berawal dari sebuah musala sederhana dengan metode pembelajaran tradisional seperti sorogan dan bandongan. Dari ruang belajar yang sangat terbatas, pesantren ini perlahan berkembang seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat.

Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah, fasilitas mulai dibangun, dan sistem pendidikan semakin tertata. Perkembangan ini menjadi bukti bahwa pesantren tumbuh melalui kedekatan dengan masyarakat dan komitmen dalam menjaga nilai-nilai keilmuan.
Saat ini, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin berada di bawah pengasuhan KH. Mokh. Akhsin Nachrowi. Di bawah kepemimpinan beliau, pesantren terus berkembang dengan tetap menjaga nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan para pendiri.
Jumlah santri yang mencapai 386 orang menjadi gambaran kepercayaan masyarakat yang terus terjaga. Dinamika kehidupan pesantren pun berlangsung aktif, mencerminkan lingkungan pendidikan yang hidup dan produktif.
Memadukan Tradisi dan Pendidikan Formal
Perkembangan penting terjadi pada tahun 1983, ketika pesantren mulai membuka pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dengan kurikulum Kementerian Agama.
Langkah ini menjadi bentuk adaptasi terhadap kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan jati diri pesantren. Hingga kini, pembelajaran kitab kuning melalui metode sorogan dan bandongan tetap menjadi ciri khas yang dipertahankan, berdampingan dengan sistem pendidikan formal.
Pembelajaran Menyeluruh dan Kehidupan Santri
Ribatul Muta’allimin mengembangkan pola pendidikan yang menyeluruh. Santri mengikuti pengajian kitab sekaligus berbagai kegiatan pengembangan diri seperti seni hadroh, pencak silat, pembelajaran bahasa asing, hingga keterampilan teknologi.

Pendekatan ini memperkuat kesiapan santri dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial. Lingkungan pesantren menjadi ruang belajar yang membentuk kemandirian sekaligus kedisiplinan.
Kontribusi Nyata bagi Masyarakat
Sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai, pesantren juga memiliki peran sosial yang kuat. Berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang erat dengan lingkungan sekitar.
Tujuan pendidikan di pesantren ini tidak hanya membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa, tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap berkontribusi dalam kehidupan sosial.


Melahirkan Alumni yang Berkontribusi
Eksistensi pesantren juga tercermin dari kiprah alumninya. Salah satu alumni Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin adalah Adib Abdushomad atau yang akrab disapa Gus Adib, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI.

Kehadiran alumni di tingkat nasional menjadi bukti bahwa pesantren mampu melahirkan sosok yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga berperan dalam menjaga harmoni kehidupan beragama di Indonesia.
Pesantren Hari Ini dan Masa Depan
Dengan sejarah panjang, sistem pendidikan yang adaptif, serta kontribusi nyata bagi masyarakat, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin menunjukkan bahwa pesantren tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, pesantren hadir sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan nilai keagamaan, dan bagian penting dalam membangun generasi masa depan.












