Kota Pekalongan (Humas) – MAN 1 Kota Pekalongan menggelar In House Training (IHT) bertajuk penguatan implementasi KMA 1503/2025 di Hotel Nirwana Pekalongan pada Sabtu–Minggu (24–25/4/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran guru dan tenaga kependidikan MAN 1 Kota Pekalongan, serta perwakilan madrasah anggota Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) se-Kota Pekalongan.
Kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta ini dibuka oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan, Jaelani. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia madrasah dalam merespons kebijakan terbaru, khususnya implementasi KMA 1503/2025. Ia mendorong para peserta untuk tmemahami regulasi secara konseptual serta mampu menerjemahkannya ke dalam praktik pembelajaran yang berdampak nyata bagi peserta didik.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber berkompeten, yakni Juair selaku Ketua Tim Kurikulum dan Evaluasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah serta Ameliasari Tauresia Kesuma, Guru Berprestasi dari MAN Salatiga.


Kepala MAN 1 Kota Pekalongan, Mimbar, dalam keterangannya menegaskan bahwa pelaksanaan IHT tidak hanya menyasar guru, tetapi juga melibatkan tenaga kependidikan seperti Tata Usaha. Menurutnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan pembelajaran mendalam tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas, tetapi juga ditopang oleh layanan pendidikan non-pembelajaran. Dukungan tersebut meliputi penyediaan media, alat peraga, kesiapan sarana prasarana, hingga sistem pelaporan yang baik, termasuk di laboratorium dan ruang keterampilan.
Lebih lanjut, Mimbar menekankan pentingnya kolaborasi dan semangat berbagi pengetahuan. Ia menyampaikan bahwa semakin banyak pihak yang memahami dan mengimplementasikan kurikulum dengan baik, maka kualitas pendidikan madrasah akan semakin meningkat. Ia juga menggarisbawahi nilai inspiratif dalam kegiatan ini, bahwa setiap individu yang menginspirasi kebaikan akan turut memperoleh manfaat dari kebaikan tersebut.
Sementara itu, narasumber Ameliasari Tauresia Kesuma menjelaskan bahwa materi yang disampaikan berfokus pada penguatan pemahaman Kurikulum Berbasis Cinta dan pembelajaran mendalam (deep learning). Sebelum pelaksanaan kegiatan, ia telah menyebarkan kuesioner untuk memetakan tingkat pemahaman peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar guru sebenarnya telah memahami konsep tersebut, tetapi masih kurang percaya diri dalam mengimplementasikannya di kelas.
Ia menegaskan bahwa tidak terdapat perubahan kurikulum secara mendasar, melainkan penambahan pendekatan melalui pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik, seperti cinta ilmu, kepedulian terhadap lingkungan, empati, kemampuan kolaborasi, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
Dalam praktiknya, lanjut Ameliasari, implementasi pendekatan tersebut sejatinya sudah dilakukan oleh guru, misalnya melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang mendorong siswa berpikir kritis, memahami persoalan nyata, serta menumbuhkan kreativitas dan empati. Namun demikian, masih banyak guru yang belum menyadari bahwa praktik tersebut telah sejalan dengan arah kebijakan yang diharapkan.
Terkait evaluasi, ia menjelaskan bahwa penilaian dalam kurikulum ini bersifat autentik dan holistik, mencakup aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terintegrasi. Penilaian dilakukan melalui rubrik yang disusun berdasarkan tujuan pembelajaran dan indikator yang telah ditetapkan, termasuk mengamati perubahan perilaku siswa secara bertahap.
Menurutnya, pembentukan karakter memang memerlukan proses yang tidak instan. Namun, kemajuan sekecil apa pun, seperti meningkatnya semangat belajar siswa, sudah dapat menjadi indikator keberhasilan dalam implementasi pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.















