Kota Pekalongan (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan, Dr. H. Abdul Wahab, S.Ag., M.Si., kembali menorehkan kontribusi intelektual melalui peluncuran buku keduanya berjudul Tuhan, Kemanusiaan, dan Pluralitas: Membaca Pemikiran Ketuhanan Soekarno. Karya ini memperkuat komitmennya dalam memperkokoh kerukunan umat beragama di Indonesia.
Dalam wawancara, Abdul Wahab menuturkan bahwa lahirnya buku ini tidak lepas dari perkembangan positif Indeks Kerukunan Umat Beragama yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Baginya, capaian tersebut merupakan buah dari kerja bersama, sekaligus penguat semangat untuk terus merawat harmoni.
Lebih jauh, penulisan buku ini juga terinspirasi oleh visi Asta Protas Menteri Agama, khususnya program prioritas pertama: meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Menurutnya, agama pada hakikatnya hadir untuk menuntun manusia pada nilai-nilai kebaikan universal.
Kerukunan sebagai Kesadaran Kolektif
Dalam bukunya, Abdul Wahab menegaskan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata, melainkan harus melahirkan kesadaran etis terhadap martabat manusia. Ia memandang Tuhan sebagai sumber nilai yang menumbuhkan kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Pluralitas pun ditempatkan sebagai ruang perjumpaan untuk membuka dialog dan saling memahami perspektif kemanusiaan. Kerukunan tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi kesadaran kolektif yang ditanamkan melalui edukasi, bimbingan, dan gerakan sosial berkelanjutan.
Abdul Wahab menilai penguatan kerukunan merupakan bagian dari program nasional untuk menciptakan harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keberagaman sebagai keniscayaan yang tidak bisa dihindari maupun dibantahkan.
“Yang perlu kita bangun adalah sikap inklusif, bukan eksklusif. Dengan begitu, masyarakat yang beragam tetap dapat hidup rukun,” tuturnya.
Kedewasaan Beragama Cegah Ekstremisme
Ia juga menyoroti pentingnya kedewasaan (maturity) dalam beragama sebagai kunci utama merawat kerukunan antarumat beragama. Sikap dewasa tersebut tercermin dari kemampuan seseorang untuk tetap teguh pada keyakinannya tanpa mudah menyalahkan pihak lain.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama menjadi langkah strategis untuk menghindari sikap ekstremisme sekaligus menjaga kedamaian sosial. Upaya ini harus dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Kalau seseorang sudah dewasa dalam beragama, ia akan memahami bahwa di luar dirinya ada pemeluk agama lain yang juga meyakini ajarannya. Dari situ akan tumbuh sikap saling menghargai,” jelasnya.
Inspirasi Pemikiran Soekarno
Terkait pemilihan tokoh Soekarno, Abdul Wahab mengaku banyak terinspirasi oleh pandangan kenegaraan presiden pertama Republik Indonesia tersebut yang mampu melampaui sekat-sekat perbedaan.
Ia menilai rumusan Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan warisan visioner para pendiri bangsa dalam mengakomodasi seluruh umat beragama di Indonesia.
Melalui buku ini, Abdul Wahab berharap semangat moderasi beragama semakin membumi dan kerukunan umat beragama terus menguat sebagai fondasi Indonesia yang damai dan berkeadaban.
“Indonesia ini seperti pelangi. Indah karena warna-warni yang berbeda namun saling melengkapi. Setiap agama punya kontribusi penting bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.











