Kota Pekalongan (Humas) – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan inklusif di Kota Pekalongan semakin diperkuat. Pemerintah Kota Pekalongan secara resmi mengukuhkan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BASN) dalam sebuah kegiatan yang digelar di Hotel Parkside Mandarin, Selasa (7/7/2026).
Pengukuhan ini menjadi langkah strategis lintas sektor dalam merespons berbagai persoalan yang masih muncul di lingkungan pendidikan, seperti perundungan, penyalahgunaan narkoba, tawuran, hingga perilaku menyimpang di kalangan pelajar. Kehadiran Pokja BASN diharapkan mampu menjadi wadah koordinasi sekaligus garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus secara lebih terstruktur.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid (Aaf), menegaskan bahwa pembentukan Pokja BASN tidak boleh berhenti pada aspek seremonial. Ia menekankan pentingnya konsistensi seluruh pihak dalam mengawal implementasi di lapangan.
“Komitmen bersama menjadi kunci. Dengan sinergi yang kuat, kita berharap dunia pendidikan di Kota Pekalongan benar-benar menjadi ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak. Pokja ini juga menjadi kanal bagi masyarakat untuk menyampaikan aduan maupun permasalahan,” ujar Aaf.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, menjelaskan bahwa Pokja BASN dibentuk melalui Surat Keputusan Wali Kota dengan melibatkan berbagai unsur. Ketua dijabat secara ex-officio oleh Sekretaris Daerah, sementara keanggotaan terdiri dari 25 perwakilan lintas sektor, mulai dari perangkat daerah, organisasi profesi, aparat penegak hukum, komunitas, hingga tokoh agama.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan, Abdul Wahab, sebagai bentuk dukungan dan komitmen Kemenag dalam penguatan budaya sekolah aman dan nyaman di satuan pendidikan keagamaan maupun umum. Keterlibatan Kemenag Kota Pekalongan menjadi penting, mengingat perannya dalam membina madrasah dan pendidikan keagamaan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan edukasi pencegahan kekerasan, pembinaan karakter peserta didik, serta penanaman nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan madrasah. Selain itu, Kemenag juga mendorong kolaborasi lintas sektor dalam upaya pendampingan dan pengawasan yang berkelanjutan.
Kegiatan pengukuhan juga dirangkaikan dengan seminar bertema “Menuju Generasi Emas Berkarakter: Membangun Sekolah sebagai Rumah Kedua yang Aman dan Nyaman”. Seminar ini diikuti oleh Kelompok Kerja Madrasah (KKM) dari jenjang RA, MI, MTs, dan MA, serta Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kota Pekalongan.
Kehadiran para pemangku kepentingan pendidikan tersebut menunjukkan bahwa upaya menciptakan sekolah aman dan nyaman bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi merupakan gerakan bersama. Dengan sinergi yang terus diperkuat, Kemenag Kota Pekalongan optimistis madrasah dan satuan pendidikan keagamaan dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang ramah anak, bebas kekerasan, dan berorientasi pada pembentukan generasi berkarakter.









