Kota Pekalongan (Humas) – Semangat solidaritas kemanusiaan di jalur mudik tampak nyata di Masjid Al Fairus, Kota Pekalongan. Di tengah padatnya arus mudik hingga arus balik, para penyuluh agama hadir memberikan pelayanan yang hangat dan penuh kepedulian bagi para pemudik yang singgah untuk beristirahat.
Pelayanan Terjadwal untuk Kenyamanan Pemudik
Sejak 18-31 Maret 2026, para penyuluh agama secara terjadwal memberikan layanan dalam tiga shift, yakni pagi, siang, dan malam. Kehadiran mereka memastikan para musafir mendapatkan tempat istirahat yang nyaman, lengkap dengan minuman dan makanan ringan untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Solidaritas Lintas Agama di Jalur Mudik
Wujud solidaritas kemanusiaan di jalur mudik semakin terasa dengan keterlibatan penyuluh lintas agama dalam pelayanan. Kolaborasi ini menjadi gambaran nyata kerukunan umat beragama di Kota Pekalongan, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam melayani masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Peran Penyuluh Melampaui Tugas Rutin
Kehadiran penyuluh agama di Masjid Ramah Pemudik ini menjadi pengalaman berbeda dari tugas keseharian mereka. Tidak hanya menjalankan pembinaan keagamaan, momentum mudik ini memperlihatkan peran sosial dan kemanusiaan penyuluh yang hadir langsung di tengah masyarakat. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan, Abdul Wahab, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pelayanan kepada masyarakat, agar kehadiran Kementerian Agama benar-benar dirasakan manfaatnya.
Testimoni Pemudik dan Dakwah Nyata
Salah satu pemudik, Dewik, yang melakukan perjalanan dari Bojonegoro menuju Kuningan, mengaku sangat terbantu dengan fasilitas di Masjid Al Fairus. Ia bersama sembilan anggota keluarganya memilih singgah karena kenyamanan tempat serta keramahan petugas, termasuk para penyuluh agama yang sigap membantu kebutuhan mereka.
Meski arus balik tengah berlangsung, para penyuluh tetap memberikan pelayanan optimal. Salah satu penyuluh, Aisyah, menilai kegiatan ini sebagai bentuk dakwah nyata. Ia menyebutkan bahwa melayani para musafir merupakan amalan mulia, terlebih ketika dapat memberikan kenyamanan dan kebahagiaan setelah perjalanan panjang.
Melalui solidaritas kemanusiaan di jalur mudik yang terbangun, Masjid Ramah Pemudik Al Fairus tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga simbol kuat kepedulian, kebersamaan, dan harmoni antarumat beragama di Kota Pekalongan.













