Selasa, Juni 2, 2026
  • Login
Kementerian Agama Kota Pekalongan
  • Beranda
  • Berita
    • Bimbingan Masyarakat Islam
    • Pendidikan Agama Islam
    • Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren
    • Pendidikan Madrasah
    • Penyelenggara Zakat dan Wakaf
    • Pembimbing Masyarakan Kristen
    • Pembimbing Masyarakan Hindu
    • Pembimbing Masyarakat Katolik
    • Pembimbing Masyarakat Buddha
  • Siaran Pers
  • Literasi KeagamaanNEW
  • Profile
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
    • Kedudukan, Tugas & Fungsi
    • Sejarah
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
    • Bimbingan Masyarakat Islam
    • Pendidikan Agama Islam
    • Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren
    • Pendidikan Madrasah
    • Penyelenggara Zakat dan Wakaf
    • Pembimbing Masyarakan Kristen
    • Pembimbing Masyarakan Hindu
    • Pembimbing Masyarakat Katolik
    • Pembimbing Masyarakat Buddha
  • Siaran Pers
  • Literasi KeagamaanNEW
  • Profile
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
    • Kedudukan, Tugas & Fungsi
    • Sejarah
  • Kontak
Tidak ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil
Kemenag Kota Pekalongan
Tidak ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
  • Siaran Pers
  • Literasi Keagamaan
  • Profile
  • Kontak
Beranda Literasi Keagamaan

Memaafkan: Jalan Pulang Menuju Ketenangan Hati

oleh adminweb
Mei 5, 2026
Dalam Kategori Literasi Keagamaan
Durasi Membaca: 6 Menit
A A
0
Memaafkan: Jalan Pulang Menuju Ketenangan Hati
54
TAMPIL
Bagikan di FacebookBagikan di WhatsApp

Penulis: Lukman Hakim, S.Ag. | Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Pekalongan Barat

Editor: Tim Humas

Refleksi Pembinaan Mental Spiritual di RUTAN Kelas IIA Pekalongan

Di tengah kehidupan modern, banyak orang tampak tersenyum di luar, tetapi menyimpan luka di dalam. Ada yang sulit tidur karena overthinking, ada yang mudah marah karena kecewa, ada pula yang terus dihantui masa lalu. Tidak sedikit orang mencari ketenangan lewat liburan, hiburan, atau menyibukkan diri, tetapi tetap merasa kosong ketika sendirian. Hal ini menunjukkan bahwa masalah terbesar manusia sering bukan di luar dirinya, melainkan di dalam hatinya.

Salah satu beban batin yang paling berat adalah ketidakmampuan memaafkan. Luka yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kemarahan, dendam, dan permusuhan yang berkepanjangan, bahkan berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Dalam kajian konseling, kondisi ini dipandang sebagai bagian dari gangguan keberfungsian psikologis yang perlu ditangani secara serius .

Dalam perspektif psikologi modern, forgiveness therapy (terapi pemaafan) dipahami sebagai salah satu intervensi terapeutik yang efektif untuk membantu individu melepaskan emosi negatif seperti marah, benci, dan keinginan membalas. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi pemaafan mampu menurunkan kecemasan, depresi, dan kemarahan, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis individu .

Lebih jauh, studi kasus menunjukkan bahwa proses terapi pemaafan yang dilakukan secara bertahap mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap trauma masa lalu. Individu yang sebelumnya dipenuhi kemarahan dapat beralih pada penerimaan, munculnya pikiran positif, serta kemampuan untuk memaafkan pihak yang menyakitinya setelah menjalani proses terapi .

Namun jauh sebelum psikologi modern berkembang, Islam telah lebih dahulu mengajarkan nilai memaafkan sebagai karakter orang bertaqwa. Allah Swt. berfirman:

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ​, وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ​ۚ‏

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Belajar Memaafkan dari Balik Jeruji

Nilai-nilai tersebut terasa sangat nyata dalam kegiatan pembinaan mental spiritual di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Pekalongan. Lembaga ini juga aktif menjalankan berbagai program pembinaan kepribadian dan pemberdayaan warga binaan, seperti pelatihan keterampilan, dan kegiatan pembinaan mental spiritual.

Dalam salah satu sesi pembinaan yang penulis lakukan, pendekatan yang digunakan adalah terapi memaafkan. Fokusnya bukan hanya memaafkan orang lain, tetapi juga memaafkan diri sendiri.

Mengapa ini penting?

Karena banyak warga binaan bukan hanya menjalani hukuman fisik, tetapi juga membawa luka psikologis yang belum selesai. Trauma masa lalu, konflik keluarga, serta pengalaman hidup yang menyakitkan dapat memunculkan kemarahan yang berkepanjangan. Jika tidak dikelola, kondisi ini justru memperburuk kesehatan mental dan menghambat proses pemulihan diri .

Memaafkan Diri Sendiri: Pintu Awal Pemulihan

Salah satu langkah paling berat dalam hidup adalah memaafkan diri sendiri. Banyak orang mampu memaafkan orang lain, tetapi masih terjebak dalam rasa bersalah terhadap masa lalunya.

Dalam perspektif terapi pemaafan, memaafkan diri sendiri merupakan bagian penting dari proses pemulihan, karena individu diajak mengubah cara pandang terhadap pengalaman traumatis dari yang semula penuh penyesalan menjadi pembelajaran yang bermakna .

Dalam pembinaan tersebut, warga binaan diajak memahami bahwa masa lalu adalah pelajaran, bukan identitas abadi. Kesalahan boleh disesali, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berubah.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini menjadi pesan penting bahwa tidak ada manusia yang tertutup dari kesempatan memperbaiki diri. Selama nafas masih ada, harapan masih terbuka.

Memaafkan Orang Lain: Membebaskan Diri dari Dendam

Selain memaafkan diri sendiri, warga binaan juga diajak memaafkan orang lain. Sebab tidak sedikit orang yang hidup dengan membawa kemarahan bertahun-tahun. Padahal, menyimpan dendam justru memperpanjang penderitaan psikologis dan menghambat proses penyembuhan diri .

Allah Swt. berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah proses melepaskan emosi negatif dan menggantinya dengan sikap yang lebih positif, sehingga individu dapat kembali memperoleh ketenangan dan keseimbangan hidup .

Psikoterapi Tasawuf: Menyembuhkan dari Dalam

Pendekatan terapi memaafkan menjadi lebih kuat ketika dipadukan dengan nilai-nilai tasawuf: dzikir, istighfar, muhasabah, doa, dan taubat. Seperti yang juga dilakukan penulis sebelum sesi kajian dibuka dengan dzikir muhasabah.

Memaafkan bukan perkara yang sederhana. Sering kali seseorang menghadapi berbagai hambatan, seperti ego yang tinggi, luka emosional yang mendalam, serta dorongan untuk membalas kesalahan orang lain. Tidak jarang rasa sakit yang dialami justru dipertahankan dan menjadi bagian dari jati diri seseorang. Dalam kajian tasawuf, keadaan ini dikenal sebagai qalbun maridh, yaitu hati yang sedang sakit. Al-Ghazali dalam karya Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa hati yang dipenuhi kemarahan dan dendam akan terhalang dari cahaya kebenaran. Dengan demikian, memaafkan dalam Islam tidak hanya etika sosial, tetapi juga terapi rohani dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Pelajaran untuk Kita Semua

Apa yang terjadi di rutan sebenarnya juga terjadi di luar sana. Banyak orang hidup bebas, tetapi batinnya dipenjara trauma, kecewa, dan penyesalan. Banyak yang sibuk bekerja, aktif di media sosial, sering berkumpul, tetapi tetap merasa sepi.

Maka, mungkin yang kita butuhkan bukan liburan panjang, tetapi hati yang lapang. Bukan tempat baru, tetapi jiwa yang baru. Dan salah satu jalan menuju itu adalah memaafkan, sebuah proses yang terbukti secara ilmiah mampu memulihkan luka batin dan membangun kembali kesejahteraan psikologis.

Penutup

Memaafkan adalah bentuk self care paling islami. Ia menenangkan pikiran, menyembuhkan luka batin, memperbaiki hubungan sosial, dan mendekatkan diri kepada Allah. Pengalaman pembinaan mental spiritual di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Pekalongan menunjukkan bahwa ketika seseorang diberi ruang untuk memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain, harapan hidup bisa tumbuh kembali.

Pada akhirnya, ketenangan bukan selalu datang karena semua masalah selesai. Kadang ketenangan hadir ketika hati sudah rela melepaskan dan di situlah jiwa menemukan jalan pulangnya.

Referensi

Afriyenti, L. U. (2022). Studi Kasus: Forgiveness Therapy untuk Mengurangi Trauma Masa Lalu. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia. https://jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/6323

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kemenag RI.

Lukman Hakim. 2026. Catatan dan Pengalaman Pembinaan Mental Spiritual di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Pekalongan.

Latif, Mukhtar. 2026. Memaafkan dan Mengikhlaskan dalam Islam: Perspektif Teologis, Psikologis, dan Filosofis https://jambisatu.id/daerah/5935/memaafkan-dan-mengikhlaskan-dalam-islam-perspektif-teologis-psikologis-dan-filosofis

Pedhu, Y. (2022). Forgiveness Therapy sebagai Salah Satu Intervensi Terapeutik dalam Konseling. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia. https://journal.stkipsingkawang.ac.id/index.php/JBKI/article/view/3281

Tags: Kajian AgamaMemaafkanTerapi Pemaafan
ShareSend
Artikel Sebelumnya

Momentum Apel Pagi, Kemenag Kota Pekalongan Serahkan SK Kenaikan Pangkat kepada ASN

Artikel Selanjutnya

Kakankemenag Kota Pekalongan Hadiri Pelepasan Siswa dan Dies Natalis ke-42 MA KH Syafi’i

Artikel Terkait

Hukum Flexing Harta di Media Sosial: Antara Riya’ dan Tahadduts bin Ni’mah
Literasi Keagamaan

Hukum Flexing Harta di Media Sosial: Antara Riya’ dan Tahadduts bin Ni’mah

oleh adminweb
13 Mei 2026
0

Penulis: Nurul Hidayah, S.S. | Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Pekalongan Barat Editor: Tim Humas Ketika Kekayaan Menjadi Konten  Budaya...

SelanjutnyaDetails
Antara Cinta dan Cicilan: Ketika Pernikahan Diuji Realitas Ekonomi

Antara Cinta dan Cicilan: Ketika Pernikahan Diuji Realitas Ekonomi

29 Apr 2026
Artikel Selanjutnya
Kakankemenag Kota Pekalongan Hadiri Pelepasan Siswa dan Dies Natalis ke-42 MA KH Syafi’i

Kakankemenag Kota Pekalongan Hadiri Pelepasan Siswa dan Dies Natalis ke-42 MA KH Syafi’i

Siaran Pers Kemenag RI: Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

Siaran Pers Kemenag RI: Banyak Hoaks Menyerang, Menag: Tak Ada Toleransi untuk Tindak Kekerasan Seksual

Kepala Kemenag Kota Pekalongan Monev Pelaksanaan Ujian di Sejumlah Madrasah, Tekankan Disiplin dan Peningkatan Kinerja Guru

Kepala Kemenag Kota Pekalongan Monev Pelaksanaan Ujian di Sejumlah Madrasah, Tekankan Disiplin dan Peningkatan Kinerja Guru

Kategori

  • Berita
  • Bimbingan Masyarakat Islam
  • Informasi Penting
  • Literasi Keagamaan
  • News
  • Pembimbing Masyarakan Hindu
  • Pembimbing Masyarakan Kristen
  • Pembimbing Masyarakat Buddha
  • Pembimbing Masyarakat Katolik
  • Pendidikan Agama Islam
  • Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren
  • Pendidikan Madrasah
  • Penerangan Agama Islam Zakat Dan Wakaf
  • Penyelenggara Haji Dan Umroh
  • Profil
  • Siaran Pers
  • Urusan Agama Islam Dan Pembinaan Syariah

Arsip

© 2026 Kementerian Agama Kota Pekalongan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Translate »
  • Beranda
  • Berita
    • Bimbingan Masyarakat Islam
    • Pendidikan Agama Islam
    • Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren
    • Pendidikan Madrasah
    • Penyelenggara Zakat dan Wakaf
    • Pembimbing Masyarakan Kristen
    • Pembimbing Masyarakan Hindu
    • Pembimbing Masyarakat Katolik
    • Pembimbing Masyarakat Buddha
  • Siaran Pers
  • Literasi Keagamaan
  • Profile
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
    • Kedudukan, Tugas & Fungsi
    • Sejarah
  • Kontak
Tidak ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil

© 2026 Kementerian Agama Kota Pekalongan

Situs web ini menggunakan cookie. Dengan terus menggunakan situs web ini, Anda memberikan persetujuan terhadap penggunaan cookie. Kunjungi Kebijakan Privasi dan Cookie kami.