Kota Pekalongan (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan menghadiri kegiatan Workshop Penulisan Puisi dan Bedah Buku yang diselenggarakan pada Sabtu (24/01/2026) di Universitas Pekalongan. Kegiatan ini diikuti oleh Guru Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah se-Kota Pekalongan, penggiat literasi, mahasiswa, serta pelajar, sebagai upaya memperkuat budaya literasi dan kreativitas kepenulisan di lingkungan pendidikan. Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FKIP Unikal, Susanto, S.S., M.Hum., yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan literasi di kalangan akademisi dan pendidik.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang sastra dan literasi, yakni Sosiawan Leak, Najibul Mahbub, M.Pd., serta Dr. Haryanto, M.Hum. Para narasumber membedah proses kreatif penulisan puisi sekaligus mengulas karya buku sebagai sarana refleksi intelektual dan sosial. Melalui sesi diskusi dan praktik, peserta diajak untuk mengasah kepekaan rasa, ketajaman bahasa, serta daya pikir kritis dalam melahirkan karya sastra yang bernilai.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Pekalongan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menegaskan bahwa workshop penulisan puisi merupakan ruang penting untuk mengembangkan kepekaan batin, kemampuan berbahasa, dan nalar kritis. Ia menekankan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam penguatan karakter dan budaya berpikir, khususnya bagi generasi muda dan para pendidik. Menurutnya, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya estetika, tetapi juga menjadi medium refleksi sosial, kemanusiaan, serta penanaman nilai-nilai kehidupan.
Lebih lanjut, Kakankemenag menyampaikan bahwa buku merupakan jendela peradaban dan sumber inspirasi perubahan. Oleh karena itu, kegiatan workshop dan bedah buku diharapkan mampu mendorong lahirnya karya-karya yang bermakna dan berdampak bagi masyarakat. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan hasil workshop sebagai pemantik lahirnya karya sastra sekaligus penggerak literasi yang berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi mampu menumbuhkan literasi sebagai budaya yang hidup dan berkembang di lingkungan pendidikan maupun masyarakat luas.







