Kota Pekalongan (Humas) – Moderasi beragama menjadi kunci penting dalam merawat kebhinekaan di tengah masyarakat yang majemuk. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan, Abdul Wahab, saat menjadi narasumber dalam Seminar Kebhinekaan Program Studi Pendidikan Profesi Guru Universitas Pekalongan bertema “Mewujudkan Perdamaian dalam Kebhinekaan berbasis Nilai Ketuhanan” yang digelar pada Jumat (1/5/2026) di Auditorium Gedung F Universitas Pekalongan.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Wahab menyampaikan materi bertajuk “Moderasi Beragama sebagai Jembatan Kebhinekaan”. Ia menekankan bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang dan sikap dalam menjalankan ajaran agama secara seimbang—tidak ekstrem, serta mampu menempatkan diri di tengah dengan menjunjung tinggi keadilan.
Menurutnya, moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan bagaimana setiap individu tetap teguh pada ajaran agamanya sekaligus menghormati praktik keagamaan orang lain. “Esensi moderasi adalah mencari titik temu, bukan memperbesar perbedaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa Indonesia sebagai negara yang majemuk menghadapi tantangan serius, mulai dari munculnya sikap beragama yang berlebihan, klaim kebenaran yang subjektif, hingga potensi konflik akibat perbedaan tafsir keagamaan. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama menjadi penting sebagai perekat antara semangat beragama dan komitmen kebangsaan.
“Beragama di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan. Moderasi beragama menjadi jembatan agar keduanya berjalan selaras, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, damai, dan toleran,” jelasnya.
Lebih lanjut, Abdul Wahab menguraikan sejumlah indikator keberhasilan moderasi beragama, di antaranya komitmen kebangsaan, toleransi, sikap anti kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi dan budaya lokal. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa moderasi beragama harus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui sikap menghormati martabat kemanusiaan, menjunjung keadaban, serta menebarkan kedamaian. “Keberagaman adalah anugerah yang harus dirawat, bukan dipertentangkan,” tambahnya.
Kegiatan seminar ini turut dihadiri oleh Dinas Pendidikan Kota Pekalongan yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pendidikan, serta diikuti oleh mahasiswa dan civitas akademika Universitas Pekalongan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para calon pendidik memiliki pemahaman yang utuh tentang pentingnya moderasi beragama sebagai landasan dalam membangun generasi yang toleran, inklusif, dan berwawasan kebangsaan.












