Tetap disiplin 5M dan terapkan protokol kesehatan Mari tetap di rumah, dan doakan pandemi segera berakhir. Dari Rumah untuk Indonesia #PrayFromHome || " AYO IMUNISASI, BERSATU SEHATKAN NEGERI " ||

Khutbah dan Do'a


Menjelang Bulan Ramadhan

2015-06-29 12:22:32

MENJELANG BULAN ROMADHON

Oleh H. Imam Tobroni, S.Ag, MM

اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا(امابعد)..

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَإِياَّيَ نَفْسِ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ الله تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Tak henti hentinya marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah  swt, dengan upaya meninggalkan larangan dan melaksanakan pertintahnya, dan jangan sekali- kali kita mati melainkan dalam keadaan Islam.

Alangkah cepatnya peredaran masa dan pergantian tahun, alangkah cepatnya bulan rajab meninggalkan kita dan nisfu syakban pun telah lewat dari  kita, sehingga kini kita kurang lebih tiga belas hari lagi akan  didatangi bulan romadlon, bulan yang mulia dan penuh berkah.  Menurut  perhitungan ahli falak Romadlon tahun ini akan dimulai dan diakhiri secara bersama, kendatipun semuanya kita menunggu hasil sidang istbat dan pengumuman dari pemerintah kapan kita mulai berpuasa?  Namun Yang utama  semoga kedatangan romadlon tahun ini bagi kita  akan dapat mendatangkan berkah, rahmat, keimanan, keselamatan, kesempatan untuk beramal soleh, peduli terhadap sesama, taubat dan taqwa. Karena rasanya tahun demi tahun, waktu yang telah kita lewati- kita masih senang menuruti hawa nafsu dan kehidupan duniawi  kita  yang serba menyenangkan. Hari- hari  dihati kita masih benyak diselimuti  oleh rasa iri, dengki, takabur, sombong, hasad, fitnah, amarah dan sebagainya. Kita belum banyak mengambil pelajaran  dari sekian banyak peristiwa yang telah lewat dihadapan kita.

Alangkah beruntungnya orang-orang diantara kita yang telah mengerjakan berbagai amal soleh, dan menutupi banyak kekurangan dan perbuatan dosa dengan kebaikan. Dan pula alangkah ruginya  diantara kita yang menyia-nyiakan waktu yang dilewati dengan banyak bermaksiat dan berbuat keburukan. Tentunya bila ini yang terjadi maka penyesalanlah yang kemudian akan dihadapi ketika bertemu dengan Hisab dari Tuhan kita :

Allah berfirman dalam Alquran surat An-naba, ayat 40:

إِنَّآ أَنذَرۡنَٰكُمۡ عَذَابٗا قَرِيبٗا يَوۡمَ يَنظُرُ ٱلۡمَرۡءُ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلۡكَافِرُ يَٰلَيۡتَنِي كُنتُ تُرَٰبَۢا ٤٠

Artinya : pada hari itu setiap orang melihat apa saja yang pernah ia lakukan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Hal yang pertama patut dilakukan adalah kita memuji dan bersyukur kepada Allah, Swt atas akan tibanya bulan Romadlon ditengah- tengah kita, karena kedatangannya merupakan harapan yang sangat besar bagi kita, berapa banyak kawan, saudara, tetangga, sanak family kita yang berharap menjumpai bulan romadlon, ternyata hanya tinggal harapan- karena mendahului  harus dipanggil menghadap Tuhan. Yaitu-Allah swt. Kita berdoa semoga orang  orang muslim  saudara kita yang telah mendahului kita senantiasa mendapat ampunan dari dosa dan kesalahan, keselamatan, rahmat, ridlo, surga. Semoga pula kelak, ketika kita telah menjadi penghuni kubur akan dirahmati oleh Allah sebagaimana orang- orang yang mendahului kita. Amien

Rasa syukur atas datangnya bulan romadlon adalah keniscayaan bagi kita, betapa banyak kemuliaan yang akan kita peroleh tatkala romadlon esok datang, kita hadapi kehadiran romadlon dengan perasaan gembira dan senang sebagai bentuk syukur kita, kita akan dipertemukan dengan suasana yang menggembirakan, berkumpul bersama dengan keluarga menunggu saat datang berbuka puasa, pergi sholat tarowih bersama, tadarus alquran, bangun  dipagi hari untuk berdzikir, sholat sunat dan melaksanakan sahur, serta pergi sholat berjamaah di waktu subuh dilanjutkan dengan pengajian kuliah subuh. Pada bulan puasa kita menyiapkan diri untuk banyak menyebut nama Tuhan kita dimanapun, kapanpun dan apapun profesi kita,- kita hadirkan Tuhan kita, Allah swt dalam setiap perilaku kita,- kita besarkan asma Tuhan  dalam setiap langkah kita, sebagai implementasi rasa syukur atas segala yang telah Allah berikan dan kini menjadi milik kita. Allah telah memberikan sangat banyak karunia  yang kita tak mampu untuk menghitungnya, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah Surat Annahl ayat 18 :

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٨

Artinya : dan jika kalian menghitung nikmat nikmat Allah maka kalian tidak dapat menghitungnya, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha Penyayang.

Implementasi atau wujud rasa syukur juga suatu upaya kita untuk  memasukan rasa bahagia yang kita miliki kepada orang lain sehingga orang lain dapat merasakan kebahagiaan juga. Ketika kita bahagia atas nikmatnya berbuka, misalnya  sebagai bentuk rasa syukur kita  dapat memberikan kepada orang lain yang tak berpunya untuk ikut bisa menikmati rasa nikmatnya berbuka. – kita dapat  berbagi kepada sesama. Bulan romadlon kita hiasi dengan semangat membayar zakat, berinfaq dan sedekah, jangan ada sedikitpun terbersit pada hati kita keinginan untuk tidak mau bersedekah dengan dalih kita termasuk orang yang tidak punya, berapapun yang kita miliki disana ada kesempatan untuk bersedekah kepada orang lain. Karena walau sekecil apapun kebaikan yang kita berikan pasti kita akan dapat memanen hasilnya. itulah bentuk syukur kita yang dalam Alqur”an disebutnya dengan :

 وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

Dan dengan nikmat Allah maka sampaikanlah.

atas datangnya bulan Romadlon setiap muslim adalah wajib untuk mensyukurinya sebagaimana  disebutkan dalam Alquran  surat Annahl Ayat 114 :

فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١١٤

Artinya : Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan kepadamu; dan syukurilah nikmat- nikmat Allah jika kalian benar-benar mengabdi kepadaNya.

Para salaf saleh dalam mewujudkan syukur menghadapi bulan romadlon dengan menampakan  sikap gembira dan memperbanyak berdoa yang dilakukanya semenjak bulan Rojab datang, mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, khususnya pada malam pertengahan bulan syakban, doa yang dipanjatkan:

الّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 “Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”

artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.

Banyak biografi nabi SAW   sebagai ungkapan rasa syukur Rosullullah menyampaikan  Berita gembira akan datangnya bulan romadlon yang disampaikan di jumat terakhir bulan syakban, setelah memuji dan bersyukur kepada Allah beliau memulai khutbahnya, “ Wahai manusia akan datang bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan,yaitu bulan romadlon, Allah swt mewajibkan puasa didalamnya, membalas orang yang melakukan kebaikan dan kebajikan (selain yang wajib) sama dengan orang yang melakukan kewajiban pada bulan lainya, siapa yang pada bulan itu melakukan kewajiban  laksana orang yang  orang yang dibulan lain melakukan tujuh puluh kewajiban.” Untuk membangun semangat berbuat ibadah dan kebaikan di  bulan penuh berkah ini juga  disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya :

عنأبيهريرةقالَ: كَانَرسولُاللهِصلياللهعليهوسلميُبَشِّرُأصْحَابَةُيقولُ: "قَدْجَاءَكُمْشَهْرُرَمَضانَشَهْرٌمُبَارَكٌفَرَضَاللهُعليكمصِيَامَهُ،تُفَتَّحُفيهأبوابُالجَنَّةِوَتغلَّقُفيهأبوابُالنَّارِ،فيهلَيْلَةُخَيْرٌمنألفِشَهْرٍ،مَنحُرِمَخَيْرَهافقدحُرِمَ". وهذالَفْظُحمادبنزيد. أخرجهالنسائيُّ

Artinya : Bulan Romadlon telah tiba kepada kalian, bulan romadlon adalah bulan yang diberkati. Didalamnya Allah mewajibkan kalian puasa. Didalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan- setan yang membangkang dibelenggu. Dan didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapapun yang diharamkan mendapat  kebaikan maka ia tidak akan mendapat kebaikan dibulan Romadlon.

Hadirin Rohima Kumullah

Selanjutnya menghadapi bulan Romadlon sebagai bulan pengampunan yang perlu dipersiapkan oleh seorang mukmin adalah persiapan ruhiyah–tazkiyatun nafs penyucian jiwa, yaitu dikembangkanya jiwa pemaaf  kepada sesama, kendatipun perlu dijelaskan  tidak ada teks   hadist yang menjelaskan bahwa rosulullah dan para sahabatnya membiasakan minta maaf menjelang romadlon. Sebagaimana pula juga tidak ada hadist yang menjelaskan saling memaafkan diawal bulan sawal. Namun memaafkan adalah bentuk tazkiyatun nafs, penyucian jiwa yang dapat dilakukan kapan saja, maka memasuki bulan romadlon dengan telah diiringi sifat saling memaafkan  adalah keniscayaan bagi kita sehingga kita berpuasa dan beribadah dalam keadaan jiwa yang bersih dan mulia. Disamping  itu substansi  dari ajaran puasa  itu sendiri adalah meletakkan manusia pada predikat Taqwa yang telah disediakan ampunan dan surga . salah satu pilar ketaqwaan adalah kehadiran manusia untuk mau memafkan kepada sesame, disamping  tidak adanya amarah dan dendam serta mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit, disampaikan dalam Alquran  surat ali imron ayat 133 dan 134 :

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

Artinya : Dan segeralah kamu kepada ampunan kepada Tuhanmu dan telah disediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang bertaqwa, yaitu orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang yang menahan amarahnya dan orang yang memaafkan kesalahan orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

bila kita memiliki jiwa pemaaf, selain kita akan dihormati, dimuliakan dan banyak kawan, kitapun akan dapat memetik kemuliaan kelak hidup di akherat, sebagaimana hadist rosulullah SAW :

ما نقصت صدقة من مال, وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا, وما تواضع عبد لله إلا رفعه الله

“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya”. (HR. Muslim)

Hadirin Rokhimakumullah

Mari kita sambut kedatangan bulan romadhon yang penuh rahmat  ini dengan menebar rahmat dan kasih sayang, kita tingkatkan semangat persaudaraan, toleransi, antar sesama kita umat Islam dan jauhilah segala percekcokan, pertengkaran, permusuhan, perpecahan dan aniaya. Kita perintahkan anak kita laki maupun perempuan untuk berpuasa khususnya bagi yang sudah mampu, sehingga selain itu karena kewajiban kita, kitapun akan mendapat pahala karenanya.

Para salaf sholeh juga menghadapi bulan romadlon dengan membuat program dan rencana apa yang akan dilakukan  serta mengawalnya dengan sangat ketat. Sejak dari sekarang kita berencana untuk esok romadlon solat  tarowih dilakukan dengan lengkap, berapa kali akan hatam Alquran, senantiasa solat jamaah, berapa banyak sedekah, infaq, sodakoh  yang akan dikeluarkan, dan kemana pula diberikan. Sehingga harapan kita- kita akan dapat melaksanakan puasa romadlon, dengan banyak disertai amal kebaikan,dan puasa kita akan menjadi sempurna. Niat akan menabur kebaikanpun di bulan romadlon telah jauh kita launcing atau canangkan sehingga kita akan mendapat nilai pahala karenanya.

Hadirin yang yang dimuliakan Allah

Selain kita terus berupaya memperbaiki puasa kita dengan terus mendalami tata cara atau fikih puasa, juga diharapkan kita dapat bersungguh- sungguh untuk memenuhi segala macam  bentuk ibadah dan kebaikan  dibulan romadlon, karena kesempatan baik ini jangan biarkan untuk pergi sebelum kita dapat mengisinya dengan berbagai kebaikan, karena  juga belum tentu kita akan dapat bertemu kembali dengan bulan romadlon berikutnya dan tahun yang akan datang.

Hadirin Rohima kumullah.

Puasa yang kita lakukan mendatang harus pula mampu menjadi sarana melakukan revolusi mental dan jiwa kita, dengan puasa yang kita lakukan akan menghadirkan jiwa kita yang bersih, yaitu jiwa yang terjauh dari semangat rutinitas kepentingan duniawi semata. Bahkan jiwa yang menjadikan materi sebagai tujuan dari seluruh aktifitas kehidupan, sehingga tanpa pandang bulu dengan cara apapun yang penting keinginan duniawi dapat terpenuhi, puasa harus memerdekakan terbelenggunya jiwa atas unsur materi itu. Rosulullah mensinyalir ada orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan hakekat puasa, yang diperoleh hanya lapar dan dahaga, karena dalam berpuasa hanya formalitas ibadah tidak menjadikan puasa sebagai sarana mengobati  penyakit dan membangun jiwa kita. Fenomena kerusuhan sosial, munculnya pemalsuan produk makanan dan profesi, saling hujat antar kelompok, penyalahgunaan narkoba, perdagangan perempuan dan anak adalah contoh problem sosial karena jiwa yang perlu dibersihkan dan dibangun, semoga puasa kita termasuk puasa yang  bermakna dan sempurna, Amien.

 

 


CARA MEMILIH PASANGAN HIDUP

2015-06-11 10:19:45

Cara Memilih Pasangan Hidup

Majidin, S.HI (Kepala KUA Kec. Pekalongan Selatan)

 

الحمد لله الذي خلق من الماء بشرا . فجعله نسبا و سهرا  وكان ربك قديرا . والصلاة والسلام علي سيد نا  محمد خير الوري.  وعلي اله وصحبه الكرام البر ري.. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله. . اللهم صل وسلم علي سيد نا  محمد الذي ارسله بشيرا ونذيرا  اما بعد . فاوصيكم نفسي بتقوي الله فقد فاز المتقون.

Maa’syirol muslimin rohimakumullah…

Kita panjatkan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan nikmat serta karunia-Nya kita bisa berkumpul di Masjid ini untuk bersama-sama melaksanakan ibadah sholat Jum’at semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amieen. Sebagai ungkapan syukur kita marilah kita berusaha meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, yaitu mejalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Ma’syirol muslimin rohimakumullah…

Sebagai tanda kebesaran Allah, bahwa Allah  menciptakan manusia berpasangan, akan tetapi kita diwajibkan untuk ikhtiar memilih pasangan hidup. Dalam memilih pasagan tentunya harus melalui beberapa tahap, antara lain :

Menentukan Kriteria

Dalam menentukan kriteria calon pasangan, Islam memberikan 2 sisi yang perlu diperhatikan.

Pertama, sisi yg terkait dengan harta, nasab, kecantikan maupun agamanya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ;

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ ُ عَنِ النَّبِيِّ t قَالَ  تُنْكَح اَلْمَرْأَة لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَر بِذَاتِ َلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya :

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,'Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena hartanya nasabnya, kecantikannya dan  agamanya Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim)

Khusus masalah agama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih  wanita  yang sisi keagamaannya sudah matang  jauh lebih menguntungkan daripada istri yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah.

Sebab dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalau suami mempunyai kemampuan agama yang lebih. Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka suami harus 'menyekolahkan' kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yg baik.

Sedangkan dari sisi nasab atau keturunan, merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang berasal dari keluarga yang taat beragama, baik status sosialnya & terpandang di tengah masyarakat. Dengan mendapatkan istri dari nasab yang baik, diharapkan  akan mendapatkan keturunan yang baik pula.

Kedua, sisi lain yang lebih terkait dengan selera pribadi, seperti masalah suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, serta hal-hal yang terkait dengan masalah fisik termasuk masalah kesehatan & seterusnya.

Sebenarnya hal ini bukan termasuk hal yang wajib diperhatikan, namun Islam memberikan hak kepada seseorang untuk memilih pasangan hidup berdasarkan subjektifitas selera setiap individu maupun keluarga dan lingkungannya. Intinya, meski pun dari sisi yang pertama tadi sudah dianggap cukup, bukan berarti dari sisi yang kedua bisa langsung sesuai. Sebab masalah selera subjektif adalah hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena terkait dengan hak setiap individu dan hubungannya dengan orang lain. Apabila sebuah rumah tangga didirikan dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda, meski masih seagama, tetap saja akan timbul hal-hal yang secara watak dan karakter sulit dihilangkan.

Melihat Langsung Calon Yang Terpilih

Seorang muslim apabila hendak menikah dan berniat untuk meminang seorang perempuan, diperbolehkan melihat perempuan tersebut sebelum ia mulai melangkah ke jenjang perkawinan, justru karena mata merupakan duta hati & kemungkinan besar bertemunya mata dengan mata itu menjadi sebab dapat bertemunya hati dan berlarutnya jiwa.

Dari Abu Hurairah ra berkata 'Saya pernah di tempat kediaman Nabi, kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki datang memberitahu, bahwa dia akan kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, maka Nabi bertanya: Sudahkah kau lihat dia? Ia menjawab: Belum!,  Kemudian Nabi mengatakan: Pergilah & lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang Anshar itu ada sesuatu.' (Riwayat Muslim)

Dari Mughirah bin Syu'bah bahwa dia pernah meminang seorang perempuan. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya:'Lihatlah dia! Karena melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua.' Kemudian Mughirah pergi kepada kedua orang tua perempuan tersebut, dan memberitahukan apa yang diperitahkan oleh Rasulllah, tetapi tampaknya kedua orang tuanya itu tidak suka. Si perempuan tersebut mendengar dari dalam biliknya, kemudian ia mengatakan: Kalau Rasulullah menyuruh kamu supaya melihat aku, maka lihatlah. Kata Mughirah: Saya lantas melihatnya & kemudian mengawininya. (Hadis Riwayat: Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi & ad-Darimi).

Ma’syirol muslimin rohimakumullah…

Demikianlah khutbah yang singkat ini semoga membawa manfaat bagi sudara-saudara kita yang akan memilih pasangan hidupnya agar tercipta keluarga yang sakinah mawaddah warahmah amieen ….. 

بارك الله لي و لكم ف القر ا ن العظيم ونفعني وايا كم من الايت والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم


MEMBANGUN LINGKUNGAN BERSIH DAN INDAH

2015-06-10 10:14:19

MEMBANGUN LINGKUNGAN BERSIH DAN INDAH

Oleh : Drs. Faqihuddin (KUA Pekalongan Timur)

 

الحمد لله أمرنا با لطهاة و النظافة , أشهد ان لاإله إلا لله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده , أللهم صل على سيدنا محمد صا حب الشفاعة وعلى أله وأصحابه ذوي السعادة.

أما بعد ...

فيا أيها المؤمنون رحمكم الله وهداكم الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فازا المتقون.

قال الله تعالى فى كتابه الكريم :

لمسجد أسس على التوى من اول يوم أحق أن تقوم فيه , فيه رجال يحبون أن يتطهروا والله يحب المطهرين (التوبة 108)

Diantara perintah Allah adalah perintah menjaga kebersihan. Islam sebagai agama yang diridhoi Allah SWT. Sangat mengajarkan masalah kebersihan, baik kebersihan jiwa, badan, maupun lingkungan. Sebagai bukti didalam Al-Qur’an Allah SWT. menyebutkan tentang (طهارة) lebih dari 33 kali, baik yang menyangkut kebersihan jasmani dan rohani, kebersihan tempat, kebersihan pakaian, makanan, badan, kebersihan lingkungan, kebersihan harta dan sebagainya.

Ungkapan “bersih pangkal sehat” menunjukkan betapa pentingnya kebersihan bagi kesehatan manusia, baik perorangan, keluarga, masyarakat, maupun lingkungan. Kebersihan merupakan syarat bagi terwujudnya kesehatan dan sehat adalah salah satu faktor yang dapat memberikan kebahagiaan. Sebaliknya, kotor/jorok  tidak saja merusak keindahan, tetapi jugan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Sedangkan sakit merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penderitaan.

Begitu pentingnya kebersihan menurut islam, sehingga orang menjaga kebersihan atau membersihkan diri akan dicintai oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 222 :

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

“Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertaubat dan orang – orang yang mensucikan diri”(Al-Baqarah : 222).

Pernyataan ayat tersebut kalau kita pahami dengan mafhum mukholafah (kebalikannya), berarti Allah SWT membenci orang – orang yang tidak mau menjaga kebersihan.

Dalam hadis riwayat Addailami. Rosulullah SAW. Bersabda :

النظافة من الايمان (رواه الديلمي)

“kebersihan itu bagian dari iman”

Dalam hadis riwayat Muslim, Rosulullah SAW bersabda :

الطهور شطر الايمان

“kebersihan itu separo dari iman”

Dari pernyataan ayat Al-Qur’an dan hadis tadi, kita dapat memahami dengan jelas dan gamblang bahwa Allah dan Rosulullah SAW sangat memerintahkan untuk menjaga kebersihan. Namun pertanyaannya apakah setiap individu muslim telah melaksanakannya??? Tentunya yang dapat menjawab dengan tepat adalah fakta dan realita. Fakta dan realita dilingkungan kita masih banyak WC umum yang kotor, tempat – tempat kencing di mushola atau masjid yang kotor, bahkan ada yang berubah warna, keramik putih menjadi kluwus, karena tidak pernah disikat, membuang sampah sembarangan masih juga sering terjadi ditengah masyarakat muslim.

Oleh karena itu mari kira bersama – sama untuk mengamalkan ajaran kebersihan ini, dengan membiasakan diri setiap buang air kecil atau besar, kita siram dan disikat sampai bersih. Disaat kita membuang sampah/putung rokok arahkan tangan kita menuju tempat sampah yang tersedia, kita jaga lingkungan mushola atau masjid kita dari kotoran ataupun sesuatu yang menyebabkan kesan kumuh dan menyebalkan pandangan mata.

Demikian inti khutbah yang kami sampaikan semoga dapat bermanfaat. Amin……

 أعوذ با لله من الشيطان الرجيم ....... فيه رجال يحبون أن يطهروا والله يحب المتطهرين .

با رك الله لي ولكم فى القرأن العظيم ونفعني و اياكم بما فيه من الأيات والذكر احكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم وقل رب اغفر وارحم وأنت الراحمين

            


DAKWAH DENGAN DAMAI

2015-06-10 09:30:49

DAKWAH DENGAN DAMAI

Drs. Chumaidi (KUA Pekalongan Timur)

 

الحمدلله الذى أمرعباده باتباع الشرع الشريف والعمل بالدين وبين الحلال والحرام على لسان رسوله الأمين وكتب السعادة لمن عمل بكتابه المبين وقضى بالذلة والشقاءعلى من خلف امره فلايسأل عمايفعل وهم يسألون واشهدان لااله الاالله المنتقم الجبار , واشهدان سيدنا محمدا رسول الله اللهم صل وسلم على سيدنا محمد النبي المختار وعلى اله و صحبه كلماذ كرك الذا كرون .

امابعد فياعبا دالله اتقوا الله ولاتكونوا من الغافلين عن الواجبات

Jama’ah Jum’at yang berbahagia ….

Da’wah berasal dari bahasa Arab à Da’wah (دعوة) sebagai bentuk masdar dari kata kerja دعا يدعو yang berarti mengajak, mengundang, memanggil berdo’a (memohon) kepada Allah.

Arti da’wah menurut istilah ialah mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk, memerintah mereka berbuat yang baik dan mencegah mereka dari perbuatan jahat agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ada beberapa cara atau bentuk dakwah, yang pernah dilakukan oleh Rosululloh SAW sesuai dengan firman Allah SWT, didalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 125 :

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥

Artinya :

“Ajaklah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalannya dan Dia lebih mengetahui orang – orang yang mendapat petunjuk”

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah dapat ditempuh dengan 3 (tiga) cara :

I. Dakwah dengan Hikmah

Arti “hikmah” dalam tafsir Al Maroghi disebutkan bahwa Hikmah itu ialah perkataan yang tepat lagi tegas yang disertai dengan dalil yang dapat menyingkap kebenaran dan melenyapkan yang samar. Penyampaian dakwah harus tepat pada sasaran yang disesuaikan dengan tempat waktu dan keadaan manusia yang dihadapi sehingga materi dakwahnya dapat diterima dengan mantap dan dapat dilaksanakan dengan ikhlas.

Dakwah dengan hikmah pernah dicontohkan oleh Rosululloh SAW, yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari Abu Ayub Al Anshori ra, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang amal perbuatan yang dapat memasukkan dia ke surga, lalu beliau SAW menjawab :

تعبد الله ولاتشرك به شيئا وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصل الرحيم

Artinya : “Hendaknya engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi”.

Hadits tersebut diatas berbeda penekanannya dari hadits yang diriwayatkan oleh Al – Bukhari dari Ibnu Muntafiq ketika ia bertemu Rosululloh SAW di Arofah dan bertanya kepada beliau SAW tentang amal perbuatan yang dapat menyelamatkannya dari siksa neraka dan memasukannya ke dalam surga, maka beliau SAW melihat ke langit lalu menghadap kepadanya (penanya) dengan wajah yang berseri – seri dan bersabda :

اعبد الله ولا تشرك به شيئاواقم الصلاة المكتوبه وادالزكاة المفروضة وصم رمضان

Artinya : “…… sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukan sesuatu dengan-Nya dirikanlah shalat fardhu, tunaikan zakat yang difardhukan dan puasalah pada bulan romadhon.”

Jamaah Sholat Jum’at yang dimulyakan Allah SWT …..

Dua hadits diatas ada perbedaan pada kalimat terakhir, yaitu hadits yang pertama sabda Rosululloh SAW ditekankan untuk bersilaturahmi, barangkali si penanya kurang mengadakan silaturahmi atau sama sekali tidak bersilaturahmi, sehingga Rosululloh SAW menambahkan dalam sabdanya perintah bersilaturrohmi.

Hadits yang kedua sabda Rosululloh SAW ditekankan pada kalimat terakhir untuk berpuasa romadhon. Barangkali si penanya kurang sempurna dalam puasanya atau bilangnya kurang genap satu bulan.

Contoh lain dakwah dengan hikmahnya yang dilakukan Rosululloh SAW :

  1. Ketika beliau ditanya orang tentang amal perbuatan yang paling mulia beliau SAW menjawab : Al Jihad Fii Sabilillah (berjuang di Jalan Allah)
  2. Orang lain bertanya kepada Rosululloh SAW tentang amal perbuatan yang paling utama, beliau SAW menjawab : “Birrul Walidain (berbuat baik kepada Ibu Bapak)
  3. Ada lagi orang lain mengajukan pertanyaan yang sama, amal perbuatan apa yang paling utama ? Beliau SAW menjawab : Kafful Adza Aninnas (tidak )
  4. Ada lagi orang yang bertanya kepada Rosululloh dengan pertanyaan yang sama maka Rosululloh SAW menjawab : Afdhoul ‘Amali As Shodaqo alal Fuqoro’I (amal yang paling utama adalah bersedekah kepada fakir miskin).

Rosululloh SAW menjawab pertanyaan kepada empat orang dengan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang berbeda – beda sehingga jawaban Rosululloh menyesuaikan kebutuhan jawaban yang sesuai dengan keadaan mereka.

Sidang Jum;at Rohimakumulloh, ….

II. Dakwah dengan Mauidhoh Khasanah (Pengajaran Yang Baik)

Yaitu memberi nasihat tentang akibat suatu perbuatan di dunia dan di akhirat.

a. Mauidhoh Khasanah dalam bentuk menyampaikan kisah – kisah orang – orang yang terdahulu baik orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya seperti para Rasul, Nabi, Para Sahabat Nabi, orang – orang salih dan kita dapat mengambil pelajaran akibat yang dialami orang – orang yang durhaka kepada Allah dan para nabi-Nya seperti bala’ yang menimpa fir’aun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, Qorun yang musnah dengan harta kekayaannya.

Diantaranya dalam QS. Fusilat 41 : 15 – 17 yang mengisahkan tentang nasib kaum ‘Ad dan Tsamud

فَأَمَّا عَادٞ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَقَالُواْ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِي خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةٗۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ١٥

فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحٗا صَرۡصَرٗا فِيٓ أَيَّامٖ نَّحِسَاتٖ لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَخۡزَىٰۖ وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ ١٦

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ فَٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ فَأَخَذَتۡهُمۡ صَٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ١٧

Artinya :

“Adapun Kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri dimuka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata siapa yang melebihi kekuatannya daripada kami apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih hebay kekuatannya daripada mereka ? dan mereka mengingkari tanda – tanda (kekuatan) kami”. Maka kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena kami hendak menimpakan kepada mereka siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Padahal siksa akhirat (lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan dan adapun Kaum Tsamud maka mereka telah kami beri petunjuk namun mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) dengan meninggalkan petunjuk maka mereka disambar petir adzab yang menghinakan disebabkan apa yang mereka kerjakan. (Fusilat 41 : 15-17).

b. Mauidhoh Khasanah dalam bentuk memberi peringatan yang mengabarkan berita gembira yaitu pahala dan surga bagi yang beriman dan beramal sholih dan berita yang ancaman yaitu neraka bagi orang yang kafir dan orang yang durhaka kepada Allah, yang melanggar perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya.

Didalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 82 disebutkan Janji Allah

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٨٢

Artinya : “Dan orang – orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan mereka penghuni surga, mereka kekal didalamnya”

Didalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 81 disebutkan ancaman Allah bagi orang yang berbuat jahat.

بَلَىٰۚ مَن كَسَبَ سَيِّئَةٗ وَأَحَٰطَتۡ بِهِۦ خَطِيٓ‍َٔتُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٨١

Artinya : “Bukan demikian, barang siapa berbuat keburukan dan dosanya telah menenggalamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya”.

c. Mauidhoh Khasanah dalam bentuk memberi contoh / tauladan yang baik bagi orang lain.

Seorang da’I harus menjadi tauladan bagi orang lain, sehingga apa yang disampaikan berupa dakwah untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat akan mudah diikuti oleh orang lain.

Jamaah Jum’at yang dimulyakan Allah ….

Berbeda dengan orang yang melakukan perbuatan dosa besar dan selalu melakukan dosa kecil, apabila dia jadi da’I yang mengajak orang lain berbuat baik dan mencegah berbuat dosa maka dakwahnya akan dicemoohkan.

III. Dakwah dengan dalil yang lebih baik

Yaitu berdakwah dengan bertukar pikiran, berdiskusi dan berdebat dengan mereka.

Didalam tukar pikiran atau diskusi kita berusaha mencari dalil yang paling kuat untuk menentukan putusan suatu hukum terhadap permasalahan yang muncul. Peserta diskusi yang menyampaikan argumentasi dan dalil yang berdasarkan  Al-Qur’an dan hadits yang shohih, jangan kita anggap sebagai lawan dan musuh tapi harus kita jadikan teman yang menunjukkan kebenaran kepada kita yang berdasarkan dalil – dalil yang kuat.

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلا وته انه هو السميع العليم . واستغفر الله لى ولكم ولوالدي ولوالديكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه فيا فوز المستغفرين ويا نجاى التائبين


KHUTBAH JUM’AH PERNIKAHAN AWAL KUNCI SUKSES BERKELUARGA

2015-06-08 08:10:55

KHUTBAH JUM’AH PERNIKAHAN AWAL KUNCI SUKSES BERKELUARGA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

أَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَكُوْنَ عَيْشُهَا مُطْمَئِنَّةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الْكَثِيْرَةِ . مِنْهَا وُجُوْدُ الْمَوَدَّةِ وَ الرَّحْمَةِ بَيْنَ الزَّوْجِ وَ الزَّوْجَةِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، شَهَادَةً أَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى قَرَّرَ قَوَاعِدَ اْلإِسْلاَمَ وَ أَقَامَ عِمَادَهُ ، أَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَ رَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ ذَوِى اْلإِسْتِقَامَةِ،،أَمَّا بَعْدُ ،، فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ النِّكَاحَ سُنَّةٌ مِنْ سُنَّةِ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . وَ أَنَّ السَّعَادَةَ مَرْجُوَّةٌ لِكُلٍّ مَنْ يَتَزَوَّجُ. قاَلَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمْ . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُد وَ النَّسَائِى. وَ قَالَ تَعاَلَى فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَمِنۡءَايَٰتِهِۦٓأَنۡخَلَقَلَكُممِّنۡأَنفُسِكُمۡأَزۡوَٰجٗالِّتَسۡكُنُوٓاْإِلَيۡهَاوَجَعَلَبَيۡنَكُممَّوَدَّةٗوَرَحۡمَةًۚإِنَّفِيذَٰلِكَلَأٓيَٰتٖلِّقَوۡمٖيَتَفَكَّرُونَ   ٢١  الآية .

 

Kaum muslimin sidang Jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita bersama-sama selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT pada setiap situasi dan kondisi, dengan melaksanakan seluruh perintah dan anjura-Nya serta menjauhi semua larangan dan hal-hal yang dimurkai oleh-Nya. Juga kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala ni’mat yang telah dilimpahkan oleh-Nya kepada kita, tanpa sedikitpun mengkufuri atau menyalahgunakan ni’mat itu untuk kemaksiatan.

Ma’asyirol muslimin yang berbahagia,

Kita mengetahui bahwa pernikahan atau perkawinan itu adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW. Kepada umatnya, beliau selalu menganjurkan agar segera menikah apabila telah sampai pada masanya dan ada kemampuan untuk itu. Anjuran Rasulullah SAW itu bukan tidak ada artinya, melainkan mengandung manfaat atau faidah yang besar sekali bagi kehidupan manusia. Sebab sebagaimana telah kita ketahui bahwa tujuan pernikahan itu antara lain adalah mencari ketenangan hidup bersama suami istri dalam rumah tangga, atau biasa disebut dengan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Akan tetapi dapatkah ketenangan itu dirasakan kalau rumah tangga yang dibangun tidak berjalan dengan baik dan bahagia?

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Terciptanya rumah tangga yang bahagia itu berangkat dari sebuah pernikahan yang sah yang dilakukan oleh calon suami dan calon istri dimana keduanya ingin hidup bersama dalam satu atap dan satu cita-cita dengan memegang peranan dan tanggung jawab menurut posisi dan fitrahnya masing-masing.

Dengan begitu suatu rumah tangga bisa menjadi bahagia tinggal tergantung dari pelakunya, yaitu suami dan istri. Kalau keduanya bisa saling memegang peranan dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan posisi dan fitrahnya, niscaya rumah tangga itu akan bahagia. Sebaliknya jika suami istri di dalam rumah tangganya sama-sama atau salah satunya tidak bertangung jawab dan mengingkari peranannya, pastilah rumah tangga itu akan berantakan. Hancurnya suatu rumah tangga sudah barang tentu akan menyebabkan tidak tenangnya suami dan istri. Itu berarti perkawinan yang dilakukan dengan tujuan memperoleh ketenangan hidup tidak berhasil.

Lalu bagaimanakah caranya agar suami istri berhasil membangun rumah tangga bahagia sehingga bisa mendukung upaya untuk meningkatkan ketaqwaan keduanya kepada Allah SWT?

Untuk menuju ke arah itu suami istri harus memiliki “Mawaddah dan Rahmah” di antara keduanya.

Allah SWT telah berfirman di dalam Kitab Suci Al-Qur'an surah Ar-Ruum ayat 21:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١

 

Artinya : dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Apabila “Mawaddah dan Rahmah” itu selalu dimiliki oleh suami istri maka jalan menuju rumah tangga bahagia pasti akan terwujud. Mawaddah berarti cinta, sedang rahmah berarti kasih sayang. Kalau hanya mawaddah atau cinta saja yang menjadi ikatan dalam perkawinan, maka hubungan suami istri akan segera putus setelah keduanya memasuki masa tua di mana daya tarik cinta sudah tidak terpancar lagi daripadanya. Oleh sebab itu, “Mawaddah” ini harus pula disertai dengan “Rahmah” atau kasih sayang. Kasih sayang inilah yang bisa mengikat kedua suami istri hidup dalam suasana tenteram dan damai hingga memasuki usia tua bahkan sampai akhir hayat. Sebab timbulnya kasih sayang itu bukan karena adanya bentuk jasmani yang menarik, melainkan datang secara ghaib karena adanya ikatan batin yang erat ibarat seorang ibu yang mengasihi anak bayinya meskipun anak bayinya itu buang air baik kecil maupun besar, sang ibu tidak merasa jijik untuk membersihkannya.

Sidang Jum’ah yang berbahagia,

Lalu bagaimanakah cara menumbuhkan “Mawaddah dan Rahmah” bagi suami istri? Sebagai seorang suami yang ingin memperoleh “Mawaddah dan Rahmah” dari istrinya, maka dia harus memahami dan menyadari akan tugasnya sebagai seorang suami. Seorang suami berkewajiban mempergauli istrinya dengan baik. Artinya dia harus bisa menciptakan suasana yang akrab dan harmonis, yang tumbuh dari hati nurani tanpa dibuat-buat sehingga tidak terjadi suasana percekcokan atau pertikaian yang tidak diinginkan, apalagi sampai berkepanjangan. Segala perselisihan yang terjadi dapat diselesaikan secra baik-baik dan damai, tanpa disertai dengan rasa jengkel, dendam dan prasangka yang bukan-bukan.

Allah SWT telah berfirman di dalam surah An Nisaa ayat 19:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ وَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ لِتَذۡهَبُواْ بِبَعۡضِ مَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩

 

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Rasulullah SAW bersabda :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ وَ أَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِى، مَا أَكْرَمَ النِّسَآءَ إِلاَّ كَرِيْمٌ وَ مَا أَهَانَهُنَّ إِلاَّ لَئِيْمُ (رَوَاهُ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِب)

Artinya : Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, sedang aku adalah yang paling baik kepada istriku. Tidak mau memuliakan para wanita (para istri) kecuali orang yang mulia dan tidak mau menghina mereka kecuali orang yang hina pula. (HR Ali bin Abi Thalib)

Suami juga berkewajiban memberi nafkah lahir dan bathin kepada istrinya dan kepada ahli keluarganya yang menjadi tanggungannya. Artinya suami harus bertanggung jawab memberi belanja setiap hari kepada istrinya menurut kemampuannya yang dimiliki. Jangan sampai terjadi seorang suami memberi nafkah sangat minim jauh dari kebutuhan yang dibutuhkan, sementara dia bermewah-mewahan di luar rumah menghambur-hamburkan kekayaannya tanpa batas.

Allah SWT berfirman di dalam surah At Thalaq ayat 7:

لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٖ مِّن سَعَتِهِۦۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡيُنفِقۡ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا ٧

  

Artinya : hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ َيقُوْتُ .(رَوَاهُ النَّسَائِي)

Artinya : Dari Abdullah bin Umar r.a. dia berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila dia menyia-nyiakan nafkah orang yang dia wajib memberi makan (menghidupinya) (HR Imam An-Nasa-i)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Begitu juga bagi seorang suami pun berkewajiban memenuhi nafkah batin, seperti kewajibannya di dalam memenuhi nafkah lahir. Sebab janganlah mengira bahwa nafkah batin itu tidak penting seperti nafkah lahir. Bahkan karena kurang mampu di dalam melayani nafkah batin inilah bisa terjadi suatu rumah tanga berantakan. Karena itu di dalam hadits Rasulullah SAW pernah berabda yang artinya :

“Janganlah seseorang mengumpuli istri sebagaimana binatang bersetubuh, dan hendaklah ada perantara antara keduanya.” Beliau ditanya : “Apakah perantara itu?” Beliau menjawab : “Ciuman dan rayuan.” (HR Ad-Dailami)

Sidang Jum’ah yang berbahagia,

Seorang istri yang menginginkan “Mawaddah dan Rahmah” dari suaminya sudah barang tentu harus bisa menyadari peranan dan fungsinya sebagai seorang istri. Seorang istri berfungsi sebagai pendamping suami di dalam rumah tangga. Karena sebagai pendamping, maka istri harus taat kepada suami, harus bisa menggembirakan suami, bisa menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya.

Rasulullah SAW telah bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللهِ خَيْرًالَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ ، إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ ، وَ إِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ ، وَ إِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ ، وَ إِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِى نَفْسِهَا وَ مَالِهِ . (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهُ عَنْ َأَبِى أُمَامَةِ )

Artinya : Tidak ada faedah bagi orang mu’min sesudah taqwa kepada Allah SWT yang lebih baik daripada istri yang shalehah. Bila dia (suaminya) menyuruhnya, ia (istrinya) mentaatinya. Bila dia melihatnya, maka ia menggembirakannya, bila dia menyumpahinya, maka dia berbakti kepadanya, dan apabila dia (suami) bepergian, maka ia pun menjaga dirinya baik-baik dan menjaga harta suaminya (HR Ibnu Majah dari Abu Umamah)

Hadits tersebut memberi pengertian kepada kita bahwa wanita yang bergitulah sebagaimana disebutkan di dalam hadits tadi merupakan wanita yang penuh pengertian dan cinta kasih. Wanita seperti inilah kiranya yang bisa diajak untuk membangun rumah tangga bahagia, disamping juga dia bisa memberi keturunan.

Rasulullah SAW telah bersabda :

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمْ (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُد وَ النَّسَائِى)

Artinya :  Kawinlah kalian dengan wanita yang pengasih dan subur karena aku akan bangga dengan jumlah kalian yang banyak. (HR Abu Dawud dan An-Nasa-i)

Demikianlah semoga kita berhasil membina rumah tangga yang bahagia. Sebab meskipun hanya masalah rumah tangga, akan tetapi justru dari rumah tangga inilah kehidupan seseorang dapat dilihat berhasil dan tidaknya di dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya. Kewajiban agama seseorang akan berjalan dengan baik dan tertib bila keadaan rumah tangganya berjalan dengan baik pula. Oleh sebab itu membina rumah tangga termasuk ibadah, yang berarti kita diberi pahala oleh Allah SWT apabila bisa melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan tidaklah berlebihan kiranya apabila disebutkan bahwa pernikahan yang  baik merupakan awal kunci sukses kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

وَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى يَقُوْلُ وَ بِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ ، وَ إِذَا قُرِئَ القُرْآنَ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَ أَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّ!جِيْمِ ، وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِى عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَ لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةْ .

وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَ ارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ .

  

 

Pekalongan, 29 Mei 2015

Kepala KUA Kec. Pekalongan Barat

 

 

H. Masrur, S.Ag.

NIP. 19710808 199804 1 002


Waktu, Upaya meningkatkan Kinerja dan Amal Sholeh

2015-06-03 10:13:28

WAKTU, UPAYA MENINGKATKAN KINERJA DAN AMAL SHOLEH

Oleh H. Imam Tobroni, S.Ag, MM

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلرَّزَّاقُ ذُوْ القُوَّةِ المَتِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ، فَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Kaum muslimin rahimakumullah…

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketakqawaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan….

Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah llah dalam Al-Qur’an

: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Pada kesempatan khutbah ini tema yang kami ambil adalah waktu, upaya meningkatkan kinerja dan amal sholeh,  tetapi yang terpenting kita perlu ketahui bahwa  Setiap detik waktu yang sudah kita lewati mustahil dapat diganti. Setiap menit dan jam yang sedang kita lewati mustahil dapat diperpanjang. Setiap pekan, bulan dan tahun yang kita habiskan mustahil dapat diulangi lagi. Setiap waktu yang sudah berlalu, tidak akan pernah dapat diganti dan diulangi. Itulah sunnatullah (sistem/hukum Allah) dalam kehidupan dunia ini. Kemampuan kita tak lebih dari sekedar menghitung detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Sebab itu, beruntunglah orang-orang yang kualitas keimanan dan amal shaleh mereka pada hari ini lebih baik dari kemarin. Rugilah orang-orang yang kualitas iman dan amal shaleh mereka pada hari ini sama dengan hari kemarin. Celakalah orang-orang yang kualitas iman dan amal shalehnya mereka pada hari ini lebih rendah dan lebih sedikit dari hari kemarin.

Sesungguhnya keberadaan kita  manusia hidup di dunia itu hanya terbagi dua. Manusia sukses dan manusia gagal. Kesuksesan dan kegagalan kita miliki  erat sekali kaitannya dengan kemampuan kita  memenej atau mengatur  waktu. Jika kita  mampu menggunakan waktu yang Allah berikan kepada kita untuk selalu meningkatkan keimanan, ilmu, amal shaleh, hidup dan dakwah di jalan Allah, maka kita  akan menjadi orang yang beruntung. Namun sebaliknya, jika kita  gagal memanfaatkan waktu yang  kita  lewati untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu, amal shaleh, aktivas dakwah dan mengoptimalkan kinerja kita sehari-hari, maka ia dipastikan akan menjadi orang yang merugi di dunia dan terlebih lagi di akhirat.

Sebab itu, waktu itu sangat mahal harganya, dan bahkan lebih mahal dari dunia dan seisinya. Salah dalam mengatur   waktu bisa berakibat kerugian besar di dunia dan akhirat. Sebaliknya, berhasil mengatur waktu dengan baik, isnya Allah akan berhasil pula dalam kehidupan di dunia yang singkat ini dan juga kehidupan akhirat yang abadi. Allah menjelaskan dalam surat AL-‘Ashr/ 103 :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Dan demi masa(1), sesungguhnya manusia itu pasti dalam keadaan merugi(2), kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh dan mereka saling bertaushiyah (saling menasehati) dengan kebenaran dan saling bertaushiyah dengan kesabaran (3).

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Waktu bagi orang beriman seperti kita adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Namun, waktu juga bisa jadi sebab malapetaka jika disia-siakan begitu saja dan tidak dapat dimanfaatkan untuk membina keimanan, mencari ilmu, meningkatkan amal shaleh, menjalankan kehidupan secara baik, saling menebar kebaikan, dan berbagai aktivitas saling menasehati ( berdakwah ) . Oleh sebab itu, Allah sering bersumpah atas nama waktu, seperti: Demi Masa, Demi Waktu Dhuha, Demi Malam dan Demi Siang. Semua ini mengisyaratkan betapa mahalnya nilai waktu itu. Tanpa waktu, mustahil kita dapat hidup di dunia ini.

Yang lebih mengagumkan lagi, Allah ciptakan waktu itu dengan ukuran dan standar perhitungan yang amat mudah, yakni berdasarkan siang dan malam. Dengan adanya siang dan malam itulah kita bisa menjalankan berbagai aktivitas kehidupan dan sekaligus beristirahat. Dengan adanya siang dan malam itulah kita bisa memenej kehidupan ini dengan mudah. Tanpa pergantian siang dan malam, kita akan sangat sulit menata dan memenej berbagai aktivitas kehidupan kita di dunia termasuk kapan kita harus tidur, istirahat, mencari rezki, menuntut ilmu, silaturahmi dan sebagainya. Allah ciptakan siang dan malam sebagai wujud kasih sayang-Nya kepada kita, sebagaimana Dia jelaskan dalam surat Al-Qashash /28 : 71 – 73 artinya :

Katakan (wahai Muhammad)! Bagaimana pendapat kalian jika Allah menjadikan bagi kalian malam terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan cahaya pada kalian? Mengapa kalian tidak mendengar (ayat-ayat Allah)?(71) Katakan (wahai Muhammad)! Jika Allah jadikan bagi kalian siang terus menerus sampai hari kiamat? Siapakah tuhan yang dapat mendatangkan malam bagi kalian untuk beristirahat padanya? Mengapa kalian tidak memperhatikan (ayat-ayat Allah).(72) dan di antara rahmat-Nya bahwa Dia menjadikan bagi kalian malam dan siang agar kalian dapat beristirahat (pada malam hari) dan mencari karunia (rezki)-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur (73).

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Oleh sebab itu, kita harus sangat berhitung dengan waktu. Kita harus pelit dengan waktu dan lebih pelit dari orang yang paling pelit terhadap hartanya. Kita harus benar-benar maksimal menggunakan waktu yang masih ada. Karena kita tidak tahu berapa lama lagi jatah waktu kita di dunia ini. Waktu kita di dunia ini akan berakhir saat ajal menjemput kita. Kita tidak mau ketika ajal tiba, kita termasuk orang-orang yang gagal dan merugi. Kita ingin saat kematian datang, kita termasuk orang-orang yang sukses, yakni orang yang mampu menggunakan waktu yang diberikan Allah untuk membina keimanan, menuntut ilmu, khususnya ilmu tentang Islam, mencari rezki yang halal, melakukan berbagai amal shaleh ( Seperti : bersodaqoh, menolong sesama, dsb ) menjalani kehidupan ini sesuai kehendak  Allah dan Rasul-Nya serta berdakwah di jalan-Nya.

Kita harus menyadari bahwa waktu kita di dunia ini sangatlah singkat dan terbatas. Kita sesungguhnya sedang dalam suatu perjalanan yang amat panjang (rihlatul khulud) menuju kehidupan yang abadi, yakni kehidupan akhirat. Sedangkan kesuksesan di akhirat kelak sangat ditentukan oleh kesukesan kita di dunia dalam memenej waktu. Gagal memenej waktu saat kita hidup di dunia ini, kita juga akan gagal sepanjang perjalanan kita menuju akhirat, yaitu saat sakratul maut tiba, saat di alam barzakh, saat menghadapi peristiwa kiamat yang sangat dahsyat itu, saat berada di padang mahsyar menunggu keputusan dan ketetapan Allah yang Maha Adil. Kegagalan demi kegagalan itu akan diteruskan dengan kekagagalan yang maha dahsyat berikutnya, yaitu kegagalan akhirat; kegagalan masuk syurga Allah dan bertemu dengan Allah. Akhirnya akan terjerumus ke dalam neraka Allah, wal i‘yazu billah. Sebab itu kita harus ekstra ketat dalam memenej waktu yang masih tersisa ini, agar kehidupan kita sukses di dunia ini dan dalam perjalanan panjang kita menuju Allah dan menuju syurga Allah serta bertemu dengan Allah. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminun /23 : 115 – 118 yang artinya ;

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?(115) Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.(116) Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.(117) Dan katakanlah: "Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik."

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Agar kita berhasil mengatur  waktu dengan baik dan maksimal, sesuai dengan misi (ibadah kepada Allah) dan visi hidup kita (menjadi khalifah Allah di muka bumi) yang telah dietapkan Allah, ada enam (6) kunci sukses yang perlu kita lakukan :

1. Menyadari betul betapa mahalnya nilai waktu itu. Waktu adalah anugerah Allah yang termahal setelah iman dan kehidupan.- maka Allah sendiri bersumpah dengan waktu ,walaili ,wannahari,wadhuha ,dsb.  Waktu adalah modal utama kita dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan ini. Tanpa waktu, kita akan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian, waktu juga ibarat pisau bermata dua. Kalau kita salah menggunakannya, ia bisa melukai diri kita sendiri. Waktu adalah pedang- begitu pepatah arab mengatakan.

2. Waktu kita di dunia ini sangatlah terbatas dan sangatlah pendek jika dibanding dengan keseluruhan perjalanan kita menuju Allah, khususnya sejak kita dilahirkan Allah ke muka bumi ini sampai ke akhirat kelak. Waktu kehidupan dunia ini akan terasa sangat lebih pendek dan sedikit lagi jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat nanti.tak terasa umur kita dari waktu ke waktu semakin bertambah, menandakan semakin dekat kita menghadap Allah swt,  Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah/2 : 28 :

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (tidak ada), maka Allah hidupkan kamu, kemudian Dia akan matikan kamu, kemudian Dia akan hidupkan kamu (kembali) dan kemudian kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

3. Jangan sampai tergoda oleh syahwat duniawi berupa harta, tahta dan wanita yang akan memalingkan kita dari kehidupan akhirat dan membangun visi hidup akhirat. Kita harus berorientasi akhirat. Kehidupan yang abadi dan yang sesungguhnya yang kita dambakan itu adalah di akhirat kelak. Kehidupan dunia ini hanya jembatan kita menuju kehidupan akhirat. Dunia ini hanya tempat kita menumpuk bekal akhirat. Hidup di dunia ini hanya ladang amal shaleh kita sebagai investasi yang akan kita petik keuntungannya besar-besaran di akhirat kelak. Faktanya, tak ada seorang manusiapun yang mampu tinggal dan hidup di atas bumi ini beribu-ribu tahun, apalagi selamanya. Bahkan untuk mencapai seratus tahun saja sulit kita temukan hari ini. Lalu, kenapa kita masih saja lupa hakikat dunia yang sementara dan akhirat yang abadi?

Sebab itu, kalau kita tertipu oleh rayuan dan tawaran gemerlap kehidupan dunia yang tidak seberapa ini, kita akan gagal total sepanjang perjalanan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah mengingatkan kita agar tidak gagal dan dapat meraih kesukesesan yang abadi, kesuksesan tanpa batas di akhirat nanti sebabagai mana firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 185 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan balasan (amal) kalian. Maka, siapa yang (hari itu) dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah sukses besar. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini kecuali (sedikit) kenikmatan yang menipu.

4. Menyadari bahwa kesempatan hidup di dunia yang sementara ini ada batas dan hambatan yang harus kita lewati. Paling tidak ada lima perkara yang menjadi batas dan hambatan yang bisa menyebabkan kita gagal dalam memenej waktu dengan baik dan maksimal, yaitu masa tua, sakit, kefakiran, kesibukan dan kematian. Karena itu, Rasul Saw. mengingatkan kita agar kelima batas dan hambatan tersebut dapat kita atasi dengan baik sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan Imam Al-Hakim dalam al-mustadraknya :

Gunakan peluang yang lima itu sebelum datang yang lima : masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, kecukupanmu sebelum datang kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu (mengurusi dunia) dan hidupmu sebelum datang kematianmu.

Kelima hal tersebut di atas adalah batas dan hambatan yang akan menyebabkan kita gagal dalam memenej waktu dan kehidupan di dunia yang akan mengakibatkan kegagalan kita sepanjang masa. Namun, batas dan hambatan yang paling terbesar dalam kehidupan kita di dunia ialah kematian. Karena bila kematian tiba, tak ada lagi kesempatan sedikitpun untuk beramal atau memperbaiki diri, atau bertaubat sekalipun. Sebab itu Rasul Saw. mengingatkan kita untuk selalu mengingat kematian. Karena kalau sudah dijemput kematian, penyesalan tidak berguna lagi sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Mukminun / 23 ayat 99 – 104.

5. Membuat planning hidup dan mengatur waktu harian berdasarkan shalat fardhu lima kali sehari. Bagaimanapun lurus dan kuatnya keimanan kita, sedalam apapun ilmu keislaman kita, sebesar apapun semangat amal shaleh kita, hidup secara islami dan aktivitas dakwah kita, tidak akan mengalami peningkatan dan perbaikan jika hidup ini kita lewati dan dibiarkan begitu saja tanpa ada palnning hidup yang kita susun. Sebaliknya, kita melihat betapa banyak anak muda, orang sehat, orang kaya dan orang berilmu jatuh ke dalam kubangan kehidupan sia-sia, atau mengalami kehidupan yang stagnan, tidak berkembang, dan bahkan mundur ke belakang akibat ketiadaan memiliki planning hidup. Sedangkan planning hidup yang terbaik adalah yang didasari oleh manajemen waktu harian berdasarkan shalat fardhu lima kali sehari.

Sebab itulah, Allah mewajibkan kita shalat fardhu lima kali dalam sehari semalam. Urutan dan jarak antara satu shalat dan shalat berikutnya sangat mengagumkan. Dimulai dari shalat subuh saat fajar menyingsing, dilanjutkan dengan shalat zhuhur saat mata hari melewati sedkit dari atas kepala kita, kemudian diteruskan dengan shalat ashar ketika bayang-bayang sudah sepanjang dirinya, dilanjutkan dengan shalat maghrib saat mata hari tenggelam dan ditutup dengan shalat isya saat warna merah (syafaq) muncul di sebelah barat. Itulah patokan waktu yang amat teliti dan sesuai dengan kapasitas dan beban diri kita yang Allah ciptakan. Allah berfirman dalam surat Annisa’/4 : 103  yang artinya :

Maka apabila kamu selesai shalat, maka berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, dan duduk dan berbaring. Maka apabila kamu merasa tenang, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Manajemen waktu berdasarkan shalat itulah yang mampu meningkatkan kualitas hidup kita. Manajamen waktu seperti itulah yang mampu meningkatkan prodiktifitas hidup kita baik yang terkait dengan keimanan, ilmu, amal shaleh, pola hidup islami, dakwah dan jihad kita di jalan Allah. Manajemen hidup seperti itulah yang menjamin kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Di samping itu semua, manajemen hidup harian berdasarkan shalat fardhu itulah yang mampu mengendalikan diri kita dan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, karena satu detikpun waktu tidak ada yang tebuang percuma, apalagi kosong dan digunakan untuk melakukan kemungkaran, dosa dan penyimpangan lainnya. Allah menjelaskan dalam surat Al-Ankabut / 29 : 45 :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)

Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu (Muhammad) dari Al-Kitab (Al-Qur’an) itu, dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sungguh berzikir kepada Alllah (shalat) itu adalah yang lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) dan Allah mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.

Bayangkan betapa dahsyatnya hidup kita jika kita bisa memenej waktu harian berdasarkan shalat fardhu yang lima. Kita mulai hari-hari kita dengan shalat subuh berjamaah di masjid di lingkungan kita, kemudian berzikir, membaca Al-Qur’an atau hadits Rasul saw., sarapan pagi, berangkat kerja, bekerja, shalat zhuhur berjamaah di masjid tempat kita bekerja, dilanjutkan makan siang, setelah itu melanjutkan pekerjaan, kemudain shalat ashar berjamaah, meneruskan pekerjaan, setelah waktu kerja selesai, pulang ke rumah, kemudian shalat maghrib berjamaah di masjid, kemudian membaca buku-buku yang bermanfaat, shalat isya berjamaah di masjid, kemudian makan malam bersama keluarga, diteruskan dengan diskusi keluarga / monitoring kondisi ibadah, pendidikan, pergaulan & kesehatan anak-anak atau anggota keluarga, nonton berita, kemudian tidur dan istirahat paling telah jam 22.000 dan kemudian bangun malam sekitar jam 03.00 / 03.30 untuk shalat malam (Tahajjud & Witir) bersama keluarga, dan setelah masuk waktu subuh dan azan berkumandang, shalat sunat fajar dan bersiap-siap menuju masjid untuk shalat subuh berikutnya.

Ini hanyalah contoh manajemen waktu harian berdasarkan shalat lima waktu. Kita bisa kembangakn dan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat lainnya sesuai ajaran Islam. Jika kita terapkan manajemen waktu harian ini, masih adakah waktu yang terbuang sia-sia?  Waktu 24 jam, 8 jam untuk bekerja – dan rasanya bekerja 8 jam sangatlah cukup bila dilakukan dengan serius dan sungguh- sungguh, 8 jam lagi untuk tidur ( Istirahat ), tidur selama 8 jam sudah sangat puas bagi kita untuk melepaskan kelelahan bekerja disiang hari, 8 jam untuk beribadah kepada Allah, Swt dalam bentuk kegiatan berdzikir, membaca alquran, sholat-sholat sunat, mendidik anak, bersilaturahim dengan tetangga dan kerabat, Maka tidaklah ada waktu yang tidak bermanfaat dan terbuang percuma, apalagi   Jika manaejemen waktu berdasarkan sholat lima waktu  waktu ini kita amalkan,  kehidupan kita penuh berkah, efektif dan produktif baik terkait agama, dunia maupun akhirat kita. Semuanya tumbuh dan berkembang sesuai porsinya masing-masing. Beginilah kehidupan para Nabi dan orang-orang shaleh sebelum kita

Untuk itu, diperlukan semangat baja, tekad yang kuat yang tak kenal menyerah dan putus asa, dan tentunya  Untuk meraih itu semua, sabar adalah kata kuncinya, dilakukan secara bertahap, yang tidak terbiasa dengan sholat tahajud misalnya – harus dimulai dan dijaga dengan sabar sehingga akan menjadi kebiasaan , demikian pula dengan amalan lainya, solat jamaah, sholat duha, sedekah dan juga bekerja keras.  Ternyata sabar dalam ketaatan jauh lebih berat dari kesabaran untuk tidak melakukan maksiat. Sebab itu, sabar dan shalat itu sangat mahal harganya, erat kaitannya dan tidak bisa dipisahkan. Sabar dan shalat adalah syarat mendapatkan pertolongan Allah. Sedangkan kesabaran salah satu syarat kesediaan Alllah untuk mau bersama kita, sebagaimana firman Alllah dalam surat Al-baqarah / 2 ; 153 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) melalui sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Di samping itu, sabar adalah kunci meraih kebaikan dan ganjaran tanpa batas dari Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Azzumar/39 : 10 :

قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Demikianlah khutbah ini, semoga bermanfaat bagi kita dalam memenej kehidupan dunia yang sementara ini. Semoga Allah selalu menjaga niat dan orientasi hidup kita dalam melaksanakan semua amal ibadah kita. Dan semoga Allah berkenan membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para nabi, shiddiqin, syuhada dan sholihin. Allahumma amin…

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو الغفور الرحيم ......


Motto Hidup : Ikhlas Beramal

2015-05-19 09:08:40

Motto Hidup : Ikhlas Beramal

Oleh H. Imam Tobroni, S.Ag, MM

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. امابعد
فَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ .  اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Tentulah menjadi keharusan bagi kita, sambil bersimpuh di masjid yang mulia ini kita terus berupaya meningkatkan rasa syukur kita atas nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepada kita, dengan cara meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada-NYA, menjauhi larangan dan melaksanakan perintahNya, sehingga sungguh kita menjadi orang yang bertaqwa. Sholawat dan salam semoga  tercurah kepada baginda nabi Muhammad, SAW dan semoga syafaatnya melimpah kepada kita sekalian, amin. 

Jamaah Jumat Rokhimakumullah,           

Allah SWT menghendaki agar kebaikan yang kita lakukan dalam rutinitas keseharian kita, khususnya oleh seorang muslim tidak hampa, atau sia-sia begitu saja, akan tetapi setiap kebaikan, setiap amal perbuatan yang dikerjakan itu memiliki makna, dan terutama di dalam kehidupan akhirat agar memperoleh pahala yang diterima oleh Allah Swt. Karena  kita pasti akan menuju pada kehidupan akhirat itu. Apalagi yang akan kita harapkan dapat menolong kita, kecuali kebaikan-kebaikan  yang kita lakukan  dan diridhai Allah Swt. Pada hari ketika harta tidak lagi berguna sama sekali, keluarga tidak mungkin dapat  menolong, kekuasaan tidak lagi bermanfaat, dan satu satunya yang kita andalkan adalah ‘amal  kita’. Dan kebaikan–kebaikan yang berguna adalah yang dilaksanakan dengan “ikhlas”, yang dilakukan dengan penuh ketulusan. Allah Swt dalam Alquran Surat Al Bayyinah ayat 5 berfirman ;

 وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Betapa pula kita diperintahkan untuk beramal dengan memurnikan ketaatan kepada Allah,Swt, tidak ada  kontaminasi dan distorsi niat dalam diri kita kecuali untuk beribadah ikhlas kepada Allah Swt. Maka sudah sepantasnya di majelis yang mulia ini kita mawas diri apakah ikhlas telah menjadi ruh perbuatan kita, bila kita menjadi orang yang berilmu pengetahuan, Kyai, Guru, Ulama , apakah telah benar menempatkan ikhlas sebagai kunci pengabdiannya? Bila kebetulan kita menjadi pemimpin pemerintahan, telahkah pula  kita ikhlas melayani masyarakat tanpa pandang bulu? Bila kita seorang aghniya dan punya apakah  sedekah dan bantuan yang kita berikan, telah  tulus dan ikhlas?  Dan begitu pula manakala kita menjadi orang  yang tak punya atau miskin, apakah pernah terbersit pada pikiran kita untuk dapat berbuat kebaikan dengan berdoa untuk semua dengan penuh tulus ikhlas?

HADIRIN SIDANG JUMAT YANG DIMULIAKAN ALLAH,

Apa makna  ‘IKHLAS' itu? Ikhlas dengan indah digambarkan dengan doa iftitah. Kita berjanji setiap sholat, [INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAKHYAYA WAMAMATI LILLAHIRRABIL ALAMIN ]‘ sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku lillahiRabbil Alamin., jadi, ikhlas ialah mengerjakan segala hal ‘Lillah’. Apa artinya Lillah? Ada tiga makna Lillah: ‘ karena Allah (lam yang berarti sebab)’, ‘untuk Allah (lam berarti tujuan)’, dan ‘kepunyaan Allah (lam berarti milik)’.  Makna-makna ini sekaligus menunjukkan tingkat keikhlasan. ‘untuk Allah’ adalah tingkat ikhlas yang paling tinggi....Bila kita memberikan bantuan kepada orang yang kesusahan, karena kita mengetahui bahwa Allah memerintahkannya, berarti kita beramal karena Allah. Bila kita menghentikan bantuan kita kepada orang itu, karena ternyata orang itu tidak berterimakasih bahkan ia menjelek-jelekan kita dimana-mana, maka kita telah tidak ikhlas.  Amal kita sangat dipengaruhi oleh reaksi orang lain pada kita.  Kita semangat beramal, ketika orang- orang menghargai kita, memuji kita, atau paling tidak memperhatikan kita. Sebaliknya, kita kehilangan gairah untuk berjuang dan beramal, ketika orang-orang mencemooh kita, menjauhi kita atau bahkan mengganggu kita.  Itu berarti kita tidak ikhlas.       

Di dalam buku berjudul ‘Al-Ikhlas’, Husin Al-Awayisyah menuturkan beberapa tanda atau ciri orang yang tidak benar-benar ikhlas, atau keikhlasan yang semu sebagai berikut : 

  1. Ikhlas terkadang dicemari oleh nafsu, seperti orang yang akan mengajar kemudian ia disibukkan dengan upaya mempersiapkan diri untuk mengajar, dengan maksud agar ia puas karena mampu berbicara dengan indah.  Atau, seseorang mampersiapkan segala perlengkapan perang, lalu mencari-cari musuh untuk diajak berperang.  Semua itu bukanlah merupakan ikhlas yang sesungguhnya.
  2. Banyak orang yang berusaha untuk tidak riya’, akan tetapi apabila ada perbuatan baiknya disebut-sebut dan dipuji-puji, ia tidak menampakan ketidaksukaannya sedikitpun, bahkan ia merasa senang dan pujian tersebut merupakan hiburan atas kepayahan yang telah dilakukan dalam beribadah.  Ini termasuk syirik yang tersembunyi.
  3. Kadang-kadang seseorang jatuh ke perbuatan riya’, bukan karena ucapan-ucapannya secara terbuka atau terang-terangan, akan tetapi keinginan agar terlihat ciri fisik yang menggambarkan ia telah melakukan ibadah tertentu, seperti nampak badannya kurus kering, wajahnya pucat, suaranya serak, adanya bekas cucuran air mata, terlihat sangat mengatuk agar orang mengetahui ia lama shalat tahajjud.
  4. Kadang-kadang seseorang berusaha untuk menyembunyikan amal shalehnya, sehingga ia tadak menyukai ada orang yang mengetahuinya. Namun, ketika ada orang yang mengetahuinya, ia menginginkan agar orang mengucapkan selamat kepadanya, mereka menyambut dengan senyuman dan rasa hormat, mereka membantu kebutuhannya, mereka memudahkan dalam melakukan transaksi, dan mereka mempersilahkan ia duduk dalam satu majelis.  Jika orang tidak memberikan sambutan meriah kepadanya, maka hatinya menjadi kecewa, karena telah tumbuh dalam dirinya rasa ingin selalu dihormati atas amal shaleh yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi.
  5. Orang yang kagum terhadap kebaikan yang telah dilakukannya (ujub) dan ia merasa bahwa ia benar-benar telah ikhlas.  Ada sebuah ungkapan, “barang siapa yang masih menyaksikan ikhlas dalam keikhlasannya, maka ia belum benar-benar ikhlas.
  6. Orang yang menghadiri undangan, atau bersilaturahim karena berharap akan memperoleh hidangan dan jamuan makanan yang lebih enak daripada makanan yang tersedia dirumahnya.  Kehadirannya hanya karena didorong oleh adanya makanan lezat, bukan karena ketaatan kepada Allah semata.
  7. Seseorang menyuguhkan hidangan kepada orang yang bertamu kepadanya, dengan harapan agar suatu saat orang tersebut juga akan menyuguhkan hidangan ketika ia bertamu ke rumahnya, dengan hidangan yang sebanding atau yang lebih baik.  Atau, seseorang memberikan hadiah dengan harapan kelak orang yang diberi hadiah itu akan membalas dengan hadiah yang serupa atau yang lebih baik, kepadanya.

Dari Abu Darda’, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mengkhawatirkan amal, lebih berat dari amal itu sendiri.  Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal, lalu ditetapkan baginya amal orang yang shaleh, yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang dilipatgandakan tujuhpuluh kali.  Lalu setan senantiasa menghampirinya sehingga ia menceritakan amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai amal yang dilakukan secara terang-terangan dan sebagai perbuatan ‘riya.  Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya takut kepada Allah dan sesungguhnya riya’ itu merupakan syirik. (HR. Al-Baihaqy).

Nabi SAW bersabda, “hai manusia, jauhilah oleh kalian syirik yang tersembunyi. “Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah syirik yang tersembunyi itu? Beliau menjawab, “Seorang berdiri untuk shalat lalu ia berusaha membaguskan shalatnya, dengan maksud memperlihatkan kepada manusia.” (HR. Ibnu Khuzaemah)

IKHLAS dalam melakukan setiap kebaikan, baik itu shalat, puasa, haji, sedekah, zikir, membaca Al-Quran dan lain-lain, maupun kebaikan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti menolong orang, mengunjungi orang dan semua kebaikan lainnya, haruslah karena dan untuk Allah semata. Jika itu yang kita lakukan, maka kita tidak akan mengalami kekecewaan.  Sebab Allah yang dituju dalam setiap amal kita, tidak akan mengecewakan hamba-Nya.  Setiap kebaikan sekecil apapun, pasti akan dibalas oleh Allah SWT.

Salah satu sifat manusia adalah, jika melakukan suatu kebaikan, maka ia mendambakan agar suatu ketika memperoleh balasan dari kebaikan tersebut.  Bila kita menolong orang, maka kita berharap kelak kita juga akan ditolong orang.  Jika kita memberi seseorang, kita berharap agar kelak orang itu juga memberi kepada kita, jika kita menghadiri undangan seseorang, kita berharap agar orang juga menghadiri undangan kita kelak. Jika kita mengunjungi seseorang, kita berharap juga agar dikunjungi. Inilah yang kemudian melahirkan kekecewaan-kekecewaan. Sebab sering terjadi, balasan dari kebaikan yang telah kita lakukan untuk orang lain hanya tinggal menjadi harapan. Sifat menusia itu, tidak pandai berterima kasih.  Biasanya, manusia itu hanya pandai menerima tapi tidak pandai memberi. Manusia itu suka ingkar janji. Jika ia telah terlepas dari belenggu kesulitan, sering kali ia melupakan oarang yang pernah menolongnya. Maka, jika berharap manusia yang membalas kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan, biasanya kita harus menelan kekecewaan. Karena itu, hanya kepada Allah sajalah hendaknya kita berharap, kita tuju dalam kebaikan-kebaikan kita, agar kelak meraih balasan dari Allah dan bukannya kekecewaan.

Disamping itu Allah Allah Swt telah memberikan perumpamaan bagi orang yang berbuat atau beramal tidak ikhlas dalam Alquran surat Al Baqoroh ayat  264  :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤

Artinya : Hai orang- orang yang beriman janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkahkan hartanya  karena riya kepada manusia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu sepertri batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan yang lebat, lalu menjadilah ia bersih ,mereka tidak menguasai sesuatupun dari  apa yang mereka usahakan.

Jamaah Jumat rakhimakumullah..

Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT berfirman, “Ikhlas itu salah satu rahasia-Ku, yang Aku titipkan didalam hati Hamba-Hamba-Ku yang Aku cintai.  “Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Ikhlaslah dalam beramal, niscaya kamu memperoleh imbalan banyak dari amal yang sedikit. “ Juga sabdanya, “Siapapun seorang hamba melakukan amal dengan ikhlas selama 40 hari, maka memancarlah hikmah dari hati melalui lisannya.”

Maka, beramallah dengn ketulusan, karena dengan demikian, amal-amal itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, akan menguatkan hubungan antar manusia, karena hubungan yang dibangun atas ketulusan, akan menguatkan ikatan batin antara seorang dengan orang lain.  Pemberian yang tidak tulus, tidak akan ada kekuatan pada pemberian tersebut.  Beramal yang tidak tulus, akan melahirkan kekecewaan-kekecewaan.